Dalam genggaman tangan Tuhan

Dalam genggaman tangan Tuhan

Senin, 16 April 2012

My heartbeat


berhentilah main kejar-kejaran sayang...
aku sudah lelah...
Mari bermain petak umpet saja..
bersembunyilah yang jauh.. 


 mitral regurgitasi







  triscupid regurgitasi







premature ventricular contractions

Minggu, 15 April 2012

Nostalgi...

Aku bingung harus memulai darimana cerita ini... 
Cerita tentang kalian...

Dia... 
Aku mengenalnya semenjak aku kuliah dulu. Tidak ada hubungan istimewa di antara kami. Dia seperti teman temanku yang lain. Seorang calon dokter yang berpenampilan tenang. Kami kehilangan kontak untuk waktu yang cukup lama. Sampai akhirnya seorang teman mengabarkan padaku, dia sakit. Gagal ginjal terminal. Dying. Dua kali seminggu harus cuci darah. 
Pertama kali aku menemaninya cuci darah, hatiku sangat sedih. Dokter muda dengan masa depan yang cerah, harus mengalami hal seperti ini.
 Kutawarkan baginya satu ginjalku. Karena golongan darah kami sama. Itu menumbuhkan harapan baru dalam hidupnya. Tapi prosesnya panjang dan ternyata aku tidak memenuhi syarat untuk menjadi donor ginjal baginya. 
Aku tahu, hatinya hancur, harapan hidupnya pupus. 
Apa yang bisa kulakukan untuknya? Hanya menemani dia di hari hari terakhir hidupnya.
Dia pernah menyatakan cintanya padaku. Cinta yang telah lama dipendam sejak masa kuliah  dulu.

Minggu demi minggu berlalu...aku masih menemaninya cuci darah. Kadang sepulang dari rumah sakit, kami berjalan jalan. Pergi ke sebuah pusat perkulakan, aku duduk di troly dan dia mendorongku, bergantian kami melakukannya, sambil tertawa seperti anak TK. Dia pernah memberiku sepasang kura kura pada hari ulang tahunku. Aku gembira sekali. Kura kura yang telah lama ku idam idamkan. Darimana dia tahu aku ingin kura kura? Aku tidak pernah tahu.

Bulan berganti tahun..
Kondisinya mulai menurun. Aku tetap menemaninya. Bersama berbagi headset untuk mendengarkan lagu selama proses cuci darah itu. Rambutnya mulai rontok. Kupunguti satu persatu helai yang berjatuhan di atas bantal.
Suatu hari, dia memintaku berjanji, untuk menemaninya ke Bali saat dia sembuh nanti. 
Tapi janji itu tidak pernah terpenuhi, dia tidak pernah sembuh dari sakitnya. 
14 februari, dia menelponku lama sekali, 3 jam kami berbincang tak bosan. Tiada kata pamit. Tiada firasat.
15 februari, ayahnya menelponku, mengabarkan berita duka itu. Dia sudah pergi. Selamanya. Dalam perjalanan menuju rumah sakit. Dan namaku adalah kata terakhir yang terucap dari bibirnya. Aku bahkan belum sempat mengucapkan bahwa aku juga mengasihinya dan  aku tak sanggup mengantarnya ke peristirahatan terakhir. 
Menulis ini, membuat hatiku tersayat lagi. Padahal cerita ini sudah lama berlalu.... Tapi ingatannya masih sangat jelas, seperti baru kemarin terjadi..

Engkau...
Bertahun setelah peristiwa itu terjadi. Aku kerap menerima pesan pendek di ponselku. Dari seseorang yang tidak kukenal. Tentu saja tidak kuhiraukan, walau sapaannya demikian santun. Mungkin akhirnya aku luluh dengan kegigihannya. Dan bersedia bertemu dengannya. Di suatu tempat yang sangat ramai, sangat umum. Saat pertama aku melihatnya, mataku terpaku pada sosok itu... Sosok yang mengingatkanku entah pada siapa. Kami berkenalan. Berbincang seperti dua orang teman yang sudah lama tidak bertemu. Berbicara bersahutan seolah tidak ada hari esok. 
Dan ketika aku melihatnya tertawa....kilasan ingatan itu datang... dan aku tahu.. tawanya, kehadirannya, sosoknya, mengingatkanku pada siapa.. Pada dia yang sudah tenang di alam sana.
Aku langsung terdiam. Menahan perih yang datang tiba tiba...
Persahabatan kami tidak berlangsung lama. Tidak banyak yang bisa aku ceritakan tentang engkau.

Kamu...
Waktu terus berjalan.
Aku melihatmu setiap minggu pagi. Duduk 3 baris di depanku, selalu di bangku sama. Seolah bangku itu diperuntukkan bagimu. Tidak pernah kulihat jelas wajahmu. Karena kamu datang lebih dulu dan pulang belakangan. Sampai suatu hari kamu terlambat datang, aku punya kesempatan untuk melihat wajahmu...dan aku terperangah.. wajahmu, sangat mirip dengan wajah engkau... Ah mengapa ini terjadi lagi? Aku pikir ini hanya perasaanku saja. Sampai seorang teman kaget karena mengira kamu adalah engkau.. Barulah aku yakin, bahwa perasaanku benar.
Dia mirip engkau. Dan engkau mirip kamu. 
Kamu bagai titisan dia... 
Dan sejak itulah cerita kita dimulai, sebuah perjalanan panjang tentang cinta dan airmata.... 
Aku tidak mencintaimu karena kamu mirip dia. 
Aku hanya merasa unik sekali perjalananku sebelum bertemu dengan kamu.

Kamis, 12 April 2012

Rabu, 11 April 2012

Untukmu...

hari itu...
senja turun di tengah hutan
suara siamang mulai menghilang
gelap menggayut menemani bulan
pernahkah engkau melihat dunia seindah ini?

pagi itu...
helai daun kering berjatuhan bagai hujan
desau angin menyentuh pepohonan
hangatnya mentari menyentuh hati
pernahkah engkau merasa dunia sedamai ini?

aku tak ingin semua berlalu
aku tak ingin cerita cinta hanya jadi kenangan
aku tak ingin bait bait puisi diam terpendam

aku ingin kita selalu bersama 
dalam damai cinta

(catatan yang telah lama tersimpan, dari suatu masa, di mana hanya ada kau dan aku)
 -cisarua, 2005

Selasa, 10 April 2012

Kamu adalah bahagiaku


 
Cinta...
Maafkan aku yaa, sekian lama kita bersama, ada hal yang selalu aku tutupi dari kamu. Yang terlalu gengsi untuk aku ungkapkan. Sehingga yang kamu tahu hanyalah pengaruhmu yang buruk dan menyakitkan untukku....

Itu unfair buat kamu....
Walau mungkin sebetulnya kamu juga tahu, bahwa jika buruk semua  pengaruhmu untukku, kita tidak akan bersama selama ini.  Kamu pasti tahu, ada sesuatu yang bisa membuat aku bertahan..

Cinta...
Kamu perlu tahu, bahwa kamu adalah bahagiaku....
Kamu membuat aku hidup kembali, bernyawa lagi, punya semangat hidup, bisa tertawa, penuh harapan. Seumur hidupku, belum ada yang pernah membuat aku sebahagia itu...

Kehadiranmu selalu aku tunggu, suaramu selalu ingin ku dengar, bahkan sms sms mu entah apapun isinya, selalu aku nantikan.
Dan bila hal itu terjadi, entah pertemuan, perbincangan di telpon atau sekedar sms, itu cukup menjadi sumber energi baru untukku. Seperti handphone lowbat yang selalu perlu di charge ulang...
Seperti penderita gagal ginjal memerlukan cuci darah setiap minggunya...
Sampai seperti itu? YA....sampai seperti itu.

Kamu juga mengajar aku untuk mempunyai mimpi..
Yang sebelumnya, bahkan bermimpi saja aku tidak berani..
Kekuatan sebesar itu, datang dari kamu, cinta....

Jadi cintaku...kamu tidak useless untukku...
Kamu bergitu berharga.. kamu luar biasa..
Cintaku tidak memakai rumus matematika, berapa tahun kita bersama, itu hanya seperberapa dari seluruh umurku, tidak begitu... 
Kamu adalah seluruh hidupku, bukan hanya setengah, sepertiga atau sepertujuhnya.
Tidak juga bisa memakai timbangan, apa bedanya kalau kamu ada atau tidak.. 
Jelas beda..sangat beda..   
Tanpa kamu, aku bukan siapa siapa, bukan apa apa.. 
Aku hanya tubuh tanpa jiwa. Hampa.. kosong.. 
Bahkan menangis dan tertawa saja sulit buatku. 
Kamu tahu sakitnya hidup seperti itu? Seperti berjalan dalam lautan luka dan berharap mati pelan pelan…


Apakah semua ini cukup membuatmu mengerti betapa berartinya kamu untukku?
Lega rasanya sudah mengungkapkan  semua, yang selama ini terpendam jauh di lubuk hati paling dalam..
Tidak ada tujuan apa apa dari menulis tentang hal ini.. 
Aku hanya ingin jujur..tidak lagi bersandiwara, tidak lagi berbohong pada diri sendiri…!! Karena itu yang paling berat. Kamu bisa membohongi orang lain, tapi kamu tidak bisa membohongi dirimu sendiri.

Terimakasih sudah mau membaca tulisan ini.. . 
Jangan marah ya cinta… kalau aku butuh waktu  hampir satu windu untuk bisa mengungkapkan ini semua.
Di penghujung usiaku, hanya kamu yang aku inginkan..
Hanya kamu...

Forever in love..
 
(semoga pengakuan ini berarti untukmu)

Senin, 09 April 2012

Hampa (pencinta 2)

Aku tahu, banyak orang ingin bertukar tempat denganku. Nyaris tidak ada yang kurang dalam hidupku, ekonomi, edukasi, family semua ku miliki. Aku pun tidak mengeluhkan itu. Aku bahkan sangat mensyukurinya. Bagiku semua sudah cukup. Hidupku indah dan penuh anugerah. 


Aku juga tidak tahu, mengapa saat ini aku merasa hampa. Merasakan kekosongan yang sangat menyakitkan. Aku tidak tahu apa yang membuatku sekosong ini. Mungkin kamu.. Ketika kamu putuskan untuk tidak memilihku, aku tahu aku sudah kehilangan dirimu. Kehilangan separuh dari hidupku, jelas itu membuat sebuah kekosongan yang besar dalam diriku.

Aku cukup pintar untuk mengerti, bahwa aku membutuhkan bantuan, mulai dari doa, buku, teman berbagi cerita, dan banyak hal lain, semua sudah ku lakukan untuk mengisi ke hampaan ini. Sampai aku lelah mencari lagi. 


Tanpamu, hidupku hampa, sunyi, sepi dan perih..
Aku bagai manusia yang berjalan tanpa jiwa, sehari demi sehari kulalui sambil menunggu mati.. 


(diterjemahkan dari isi hati seorang pencinta lainnya)

Sempurna (pencinta 1)

Karena cinta kita sempurna...
Aku tahu tak akan lagi kurasakan cinta sesempurna ini. 
Ingatlah baik baik cinta matiku, bahwa ketika aku harus memilih untuk melepaskanmu, itu bukan karena cinta kita telah usang. Tapi karena aku tidak layak  memiliki cinta yang sempurna itu. 
Kamu tahu ungkapan cinta abadi, cinta sejati, cinta mati atau apapun itu, itu semua rasaku untukmu.


Kamu tahu, bagiku logika tidak ada hubungannya dengan cinta. Bagaimanapun pertengkaran kita, itu tidak mengubah apalagi mengurangi cintaku untukmu. Logika itu bukan hati...


Kalau hanya ada "kita", aku ingin selamanya hidup bersama denganmu. Tetapi tidak ada "kita" di antara "kita". Karena kita memiliki pasukan masing masing dengan sekumpulan prajuritnya. Dan kita mempunyai tanggung jawab terhadap berlangsungnya hidup pasukan kita.


Ada saatnya aku begitu lelah dengan semua ini, sehingga ingin kutinggalkan semua. Kadang aku berharap tidak terbangun lagi dari tidurku. Aku tidak ingin berperang lagi, menaklukkan semua ambisi demi segumpal prestise yang pada saatnya nanti tidak akan berarti apa apa lagi.

Maafkan aku..
Aku tahu ini menyakitkan untukmu. Kamu mungkin tidak tahu, ini lebih menyakitkan untukku.. 
Jangan menyerah.. aku tahu kamu pasti bisa melalui semua ini.
Tuhanpun berpihak padamu. 
Jangan menangis untukku... Aku tak pantas mendapatkan airmatamu,  itu terlalu berharga untuk manusia sepertiku, manusia yang hanya merusak sempurnamu. Aku ingin melihatmu seperti dulu lagi, penuh tawa, ceria dan berbahagia.

Aku tak pandai menyusun kata, tidak mahir dalam mengungkap rasa, yang aku tahu, selamanya, cintaku hanya untukmu...


(diterjemahkan dari isi hati seorang pencinta)

Senin, 02 April 2012

I'am Lucky

Hidup tidak berhenti di sini. Akan selalu ada cinta yang yang lain. Cinta yang berbeda. Seperti sebuah foto di kameraku. Si empunya wajah mungkin tidak tahu kalau aku mengambil gambarnya. Wajah yang sedang tertawa entah pada siapa. Aku jatuh cinta padanya. Tepatnya jatuh cinta pada buah pikirnya, pada karyanya, pada goresan tangannya dan pada caranya menghapus air mataku. Entah mengapa, empunya wajah itu, selalu menjadi orang yang tepat untukku, pada waktu aku galau, dia ada, pada saat aku berduka, dia setia. Bagaimana mungkin aku tidak jatuh cinta pada orang seperti itu. Hari ini dia sedang berbahagia, begitu juga aku. Aku bahagia untuknya.


Hidup tidak berhenti di sini. Akan selalu ada cinta yang lain. Cinta yang berbeda. Seperti cinta seorang teman lama. Dia yang memendam cinta sekian lama dan akhirnya kuketahui juga. Aha... Aku jatuh cinta padanya. Tepatnya jatuh cinta pada caranya mencintaiku. Bisa bisanya dia mencintai dalam diam, menutup rapat semua dengan selubungnya. Tapi siapakah yang bisa menyembunyikan cinta? Suatu saat selubung itu akan terbuka juga. 

Hidup tidak berhenti di sini. Akan selalu ada cinta yang lain. Cinta yang berbeda.  Seperti cinta seorang sahabat yang menangis untukku ketika aku sakit. Cinta seorang sahabat yang kerap mencariku untuk berbagi derai tawa atau sekedar bergosip semata. Cinta seorang sahabat yang jarang bertemu tapi kita sama sama tahu  bahwa hati kita tetap menyatu sehingga pertemuan akan selalu ditunggu dengan penuh rindu.


Terimakasih kalian, yang sudah membuatku mengenal wajah wajah cinta, yang membuatku merasa istimewa karena dicintai dengan cara yang berbeda.
Terimakasih kalian, yang sudah membuat hidupku lebih berirama, yang sudah membuat jantungku mau berdegup lagi. Kalian nafas hidupku. Kalian irama bagi laguku.

Betapa luar biasa DIA yang sudah memenuhi semua kebutuhanku akan kalian. 
Betapa luar biasa DIA yang mengenalku secara detail dan memberiku bahagia.
Betapa beruntungnya aku, karena memiliki DIA dan kalian...
UntukMU kuberikan seluruh cintaku.
 

Curcol..

* Mengeluh itu, menambah berat bebanmu dan merenggut bahagiamu.

* Suatu hari nanti, kamu hanya bisa bertemu denganku di dalam kenanganmu.

* SMS, barisan kalimat yang kadang ditunggu, kadang dibenci, kadang membahagiakan, kadang membuat galau, kadang membuatmu tertawa, kadang tidak berarti apa apa. Lihatlah kekuatannya. Sekarang pilihanmu adalah membuatnya menjadi pembangun atau perusak harimu.

* Apa yang disebut jodoh? Ketika aku menikah denganmu? (Muka Komik) 

*Bahagiakanlah orang yang membuatmu bahagia, jangan malah menyakitinya. Karena kelak kamu akan menyesal.

*Jangan suka mengukur orang lain dengan gelas takarmu sendiri.

Minggu, 01 April 2012

Bagaimana kamu mengenangku kelak?

Kalau aku sudah tidak bersamamu lagi, bagaimana kamu mengenangku?
Seperti apa aku yang ada dalam ingatanmu?
Seorang gadis manja, yang cerewet, cengeng?
Atau seorang wanita yang menjadi pelabuhan bagi jiwamu yang lelah?

Bagaimana artiku untukmu dan apa harapanmu terhadapku?
Apakah aku yang kamu inginkan sebagai orang yang akan menemanimu menghabiskan hari tua bersama?
Atau kamu pikir, kamu tidak dapat menaruh harap apapun, seolah tidak ada masa depan bagi kita? 
Karena kita hanyalah manusia manusia pengecut yang tidak berani memperjuangkan cinta kita?  


Aku mencintaimu, kamu tahu itu. Tanpa aku perlu mengatakannya.
Kamu mencintaiku, aku juga tahu itu. Walau kata cinta tidak lagi terucap dari bibirmu.


Saat ini yang kita miliki bukan masa depan, tapi hanya kenangan yang lama kelamaan akan memburam seiring dengan berjalannya waktu, dan akan tergantikan dengan kenangan kenangan lain.


Karena itu, sebelum kenanganmu tentang aku pudar, bolehkah aku tahu, seperti apa kamu akan mengenangku kelak?