Dalam genggaman tangan Tuhan

Dalam genggaman tangan Tuhan

Selasa, 02 Oktober 2012

Sekeping CD....



Sekeping cd yang kamu tinggalkan di dashboard mobilku, ternyata mampu membuat hatiku berdarah lagi...
Sekeping cd berisi 60 lagu yang kita dengar bersama, selama berhari hari, pasti sudah  membentuk suatu jaringan  baru sel sel kelabu di otakku...

Tidak cuma itu...deretan angka ini "105.8" apakah mempunyai arti tertentu untukmu? Karena dari sanalah semua lagu itu berasal.. 
Angka angka itu adalah gelombang yang mempersatukan imajinasi kita.
Imajinasi mengenai seseorang, sebuah peristiwa, atau hanya untaian nada nada indah yang tidak mengingatkan kita pada apapun atau siapapun... 

Kupikir setelah bertemu dengan teman teman baru, mempunyai kegiatan baru, kesibukan baru dan banyak hal yang harus dipikirkan, di upayakan, di selesaikan, itu mampu membuat semua tentangmu pupus begitu saja..
Ternyata aku salah... aku lupa akan satu hal..
Hidupku kini tidak bernada lagi..

Tinggalkan aku permata, aku bisa membuangnya jauh ke lautan lepas dan tidak melihatnya lagi...
Tinggalkan aku gambar, aku bisa menghapusnya atau merobeknya menjadi serpihan serpihan kecil... 
Tinggalkan aku kenangan, suatu saat aku pasti akan melupakannya.. 

Tapi tolong, jangan tinggalkan aku nada....dan jangan ambil nadaku... kerena nada adalah irama bagi hidupku...

Pergi ya pergi saja...

Lelaki dalam sekeping CD

Pergi ya pergi saja...
Ada kemarahan dalam kalimat itu. Tapi itu duluu.... bertahun yang lalu. Sekarang aku tengah memandangi sosok itu dari jauh. Sosok yang dulu pernah dekat denganku. Sosok tak terganti yang pernah mengambil irama hidupku.
Sosok itu duduk dengan tenang, dalam diam, di bawah sebuah pohon rindang. Matanya jauh memandang birunya langit dan gumpalan awan yang berarak. Ah dia masih seperti dulu, suka memandangi cakrawala. Setidaknya masih ada yang tertinggal dalam dirinya, yang tidak berubah, walaupun dia sudah menjadi seorang yang berbeda..

Kukumpulkan segenap keberanianku dan kutahan airmataku supaya tidak segera tumpah, rasanya menyesakkan dada.. Perlahan kulangkahkan kakiku, aku berjalan menghampirinya. Kemudian aku duduk disebelahnya. Dia menoleh padaku, tersenyum, deretan gigi putih itu masih terawat dengan baik. Kulit tembaganya berkilau seperti madu. 
Jantungku berdebar keras... ketika kutatap matanya.. kosong... tak ada cahaya kehidupan di sana.
Hatiku remuk... air mataku tumpah...aku tak mampu berkata kata..
Dia kembali diam, memandangi cakrawala dalam semburat jingga. Entah apa yang dicarinya di sana...
Aku dan dia, menyatu dalam hening..tanpa nada..

Ketika hari semakin senja, seseorang berpakaian putih menghampiri kami, dengan santun meminta ijin untuk membawanya kembali ke ruangan. Aku bahkan tidak bisa mengangguk.. Hanya terpana.. 
Dengan lugu, dia menurut saja dibimbing pergi, meninggalkan aku yang termanggu di sini. 

Maafkan aku... sejujurnya aku tidak pernah benar benar menginginkanmu pergi...
Biarkan hidupku tanpa nada, asalkan dirimu bisa kembali seperti dulu...
Perlahan kutinggalkan halaman teduh itu... 
Besok aku akan kembali untukmu..menemanimu memandang cakrawala seperti dulu. 
Akan kubawakan sekeping CD yang pernah kau tinggalkan di dashboard mobilku dulu...

I can't fight this feeling anymore

(salah satu lagu dari 'Sekeping CD')

Aku menyerah... Sungguh, aku menyerah...
Aku tak mampu lagi menahan semua rasa ini. Aku mengakuinya sekarang. 

A k u    j a t u h     c i n ta     p a d a m u...

(kamu tidak perlu koprol sambil bilang WOW...)

Aku tidak tahu sejak kapan rasa ini tumbuh. Mungkin sejak kamu mulai sering singgah dalam pikiranku. Dan itu tidak tentu waktu, kadang dari bangun pagi sampai matahari terbenam lagi. 
Aku tidak dengan sengaja mengingat kamu. Aku bahkan lebih sering berusaha mengalihkan pikiranku pada hal hal yang lain, selain kamu. 
Tapi semakin aku berusaha mengalihkannya, semakin erat pula cengkeramanmu pada sel sel kelabu di otakku. 

Kata orang, rasa itu jangan dilawan... Tapi dilepaskan saja. Aku juga sudah mencobanya. Kulepaskan semua pikiranku tentang kamu. Membiarkannya hanyut terbawa angin atau gelombang. Tapi bahkan badai dan tsunami di hatiku tidak juga membuatmu terlepas dari pikiranku.

Sampai akhirnya aku tiba di titik ini. Aku menyerah... 
Puluhan purnama tidak mampu membuatmu menjadi sabit di hatiku, bahkan walau untuk sehari saja. 

Tenang saja, aku tidak memintamu untuk menjadi kekasihku, bukan karena tidak mau... Tapi, kalau menjadi kekasih itu mengurangi sedikit saja bahagiaku saat ini, lebih baik tidak. Mengingatmu, mengenangmu dan mengkhayalkan kehadiranmu sudah menjadi kenikmatan tersendiri. Semua ini sudah cukup bagiku. Setidaknya sampai saat ini.

Selanjutnya bagaimana? Aku tidak tahu...
Biarkan saja rasa ini mengalir, seperti air... entah sampai ke laut, atau masuk ke dalam perut.

Sekarang kamu sudah tahu..

A k u    j a t u h     c i n ta     p a d a m u...  

Jumat, 28 September 2012

Halimun



Kata katanya berbisa!! Dan aku terkena racunnya sehingga mau ikut naik gunung dengan dia. Sobatku itu, gemar sekali mendaki gunung. Kadang berhari hari tidak pulang hanya untuk mendaki. Entah apa enaknya. Lama lama aku penasaran juga ingin mencoba. Ternyata seperti ini!! 
Sudah hampir 6 jam kelompok kami berjalan. Betisku sudah hampir pecah, sekrup sekrup di kakiku sudah lepas. Walau aku tidak memanggul ransel di punggungku, tapi itu tidak mengurangi penderitaanku sedikitpun.

Tapi lihat, sobatku itu, santai saja dia berjalan, ransel di punggung tidak mengganggunya sama sekali. Langkah langkah kecilnya mantap dan penuh percaya diri. Matanya tak puas puasnya memandangi berbagai jenis pohon yang tumbuh di hutan tropis ini, sesekali langkahnya terhenti ketika beberapa jenis satwa melintas. 
Aku juga seperti itu, jika sedang menikmati baju baju di mal. Yah, kami memang berbeda, tapi itu tidak menghalangi kami untuk bersahabat.

Kabut mulai turun, membuat jarak pandang kami menjadi terbatas, padahal hari masih siang. Tak lama kemudian hujan turun. Lengkaplah sudah penderitaanku!! Jalan setapak mendaki yang kami lalui menjadi sangat yang licin. Aku menggunakan tongkat kayu untuk membantuku berjalan.  Rasanya ingin kembali pulang saja. Tidur berselimut hangat di kamarku. 
Sobatku itu, malah tertawa tawa menadahkan tangannya, dan menengadahkan kepala, lalu membuka mulutnya dan membiarkan butiran hujan terjun bebas dari langit masuk ke dalam tenggorokannya. Dasar sinting....

Untung tak lama kemudian, hujan berhenti dan teman teman mendirikan tenda. Sementara aku sibuk mencari lokasi untuk buang air kecil. Tidak ada kamar mandi di sini. Hanya ada saluran air kecil di tempat yang terbuka. Memang repot jadi perempuan. 

Kalau kukira setelah istirahat di tenda dan mengisi perut, penderitaanku berakhir, aku salah besar. Ternyata udara malam di gunung sangat dingin. Walau tenda kami terlindung dari terpaan angin, tapi suhu di kisaran 5 derajat, membuat gigiku gemeretuk. Kami menghangatkan diri di depan api unggun, yang sebenarnya tidak terlalu membantu.
Lagi lagi sobatku itu, tetap santai menikmati dinginnya malam. Telinganya dibiarkan terbuka, supaya bisa mendengar suara binatang malam dengan jelas, begitu katanya. Aku tahu, dia juga kedinginan, siapa yang tidak?

Tapi semua jerih payahku terbayar lunas, ketika akhirnya aku sampai di puncak. Negeri di awan. Amazing. Luar biasa. Tak ada kata yang mampu menggambarkan perasaanku saat melihat semburat jingga mentari pagi muncul di ufuk timur dan pucuk pucuk cemara tertutup awan. Aku hanya bisa duduk termangu dan merasa begitu kecil dalam genggaman tanganNya.  

Sekarang aku tahu, apa yang membuat sobatku itu begitu senang mendaki. Di sini, tidak ada perbedaan sosial, ras, ekonomi, pendidikan, kasta atau apapun juga. Kita semua sama. Mereka yang gemar tawuran dan dengan mudah mengambil nyawa seseorang, mungkin belum pernah mendaki gunung. Hanya merasa menjadi jagoan jagoan tak bermakna karena belum pernah melihat ciptaanNya yang luar biasa indah, yang membuat kita menyadari bahwa kita bukan apa apa. Tak pantas arogansi semu itu ada di dalam hati.

Pendakian itu, menjadi pendakian terakhir sobatku. Kini kondisinya tidak memungkinkan dia untuk mendaki lagi. Tapi aku sangat berterimakasih karena melalui dia, aku mendapat pengalaman yang sangat berarti, kesempatan untuk melihat sebuah dunia yang berbeda dan aku bisa belajar banyak hal di dalamnya. Termasuk kekasih yang sekarang mendampingiku. Hmm, yang itu bonus.

pepep


Namanya peppy, panggilan sayangnya pepep. 
Hihihi, cocok kan..dia pepep, gue bebeb.. 
Sekarang dia nongol lagi, tapi pagi pagi. Biar deh mau siaran ulang ga apa. Namanya juga kangen...

Gue heran beb, apa seh yang bikin lo suka banget ma dia?

Apa ya? kalo liat dia, perut gue geli..hihihi...

Ya ampun..gara gara itu? Aneh banget..
Gue paham kalo lo suka sama Bae Yong Joon.. jelas ganteng, cool, romantis, kalem, rapi, terawat....


nah yang ini? liat dong kesenjangannya..jeleknya pol, ngocol, gembel, brisik, ga terawat... (emang lucu seh)


hihihihi... iyaa yaa..kenapa bisa begitu ya? 
tapi ga apa.. yang penting gue sukaaaa...

Yaah mending lo suka ma gue beb, gantengnya cuma beda tipis ma artis Korea itu, gue romantis, cool... 
jeleknya kan cuma satu.. bokek mulu...

Hahahahahaha...nah tuh sadar...

Beeeb..jadi nasib gue gimana? Masa gue kalah ma peppy!!! Harga diri beb....harga diri..

Puk..puk...  yang sabar yaa, terima nasib aja.. 
Ditolak kan belum tentu diterima..

(dedicated to 'peppy' fellow fans)

Kamis, 27 September 2012

a thousand years...



Aku terbangun. Masih setengah linglung, kulihat langit langit kamar, putih.. Aku di mana? ini hari apa? jam berapa? Aku berusaha mengeliat. Tapi tubuhku seperti tak bertulang. Kualihkan pandanganku dari langit langit kamar dan aku terkejut, melihatmu duduk di tepi tempat tidur sambil memandangku dalam dalam. Kenapa dia bisa berada di sini, pikirku. Kulihat kamu tersenyum dan berkata, "kamu sudah sadar..."
Rasanya rohku belum terkumpul semua. Aku tidak bisa mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Aku tidak mengerti arti kalimatmu. Aku mengantuk, ingin tidur lagi. 

Aku kesal sekali, mengapa ada orang sekeras batu seperti dia. Aku benar benar jengkel. Tidakkah ia tahu, kalau wajahmu sudah seputih kertas dan jemarinya sudah sedingin es. Jangankan berjalan, melangkahpun sudah sulit, nafasnya tersengal sengal, aku tahu dia sedang sesak. Tapi dia tetap berkeras pergi untuk menemui penulis idolanya. Sudah janji, itu alasannya. Aku tidak mau mengantarnya. Tapi sifat kepala batunya itu membulatkan tekad, dengan tertatih dia berjalan. Aku tidak mau memapahnya. Kubiarkan saja dia mencoba pergi. Ingin kulihat sampai di mana keras hatinya. Tiba tiba dia terhuyung dan jatuh. Aku bahkan tidak sempat menangkap seluruh tubuhnya. Aku juga nyaris terjatuh ketika mencoba meraihnya. Dan kini tubuhnya lunglai dalam pelukku. 
Aku takut sekali, aku tidak menginginkan sesuatu yang buruk terjadi padanya. Aku tidak ingin kehilangan dia.... 
Apa kataku tadi? Aku tidak ingin kehilangan dia?
Apa artinya? Apakah aku sudah jatuh cinta padanya? Pada mahluk kepala batu? 
Astaga... jangan sampai itu terjadi...

Aku hendak berjalan jalan di pantai. Menikmati semilir angin, uap air laut dan hangatnya mentari pagi. Dulu, berjalan di sepanjang pantai ini, sama sekali bukan masalah untukku. Tapi kini, setiap beberapa langkah, aku harus berhenti dulu, mengatur nafas baru kemudian berjalan lagi. Tujuanku jelas, batu besar itu. Tapi sebagian akal sehatku berkata, mungkin aku bisa sampai ke batu besar itu, tapi bagaimana kembalinya? Sanggupkah aku? 
Akhirnya aku terduduk lemas di atas sebatang pohon kering.  Tak mampu kutahan airmata yang bergulir jatuh. Aku harus menerima kenyataan ini. Aku tidak lagi kuat seperti dulu...

Dia ingin berjalan jalan di pantai pagi ini. Aku melihatnya sudah cukup kuat, karena dia tertidur pulas semalam. Istirahat yang cukup untuknya. Tidak untukku. Semalaman aku menjaganya, melihatnya tidur seperti bayi. Mahluk keras kepala itu, tidak tampak sama sekali. 
Kuajak dia minum teh hangat sebelum berjalan jalan, tapi dia tidak mau. Dan kubiarkan dia berjalan sementara kunikmati sececap teh manis yang menghangatkan rongga dadaku. Aku tahu, dia pasti berjalan menuju batu besar itu.  Dia pernah bercerita, berdiri di atas batu besar itu, menahan terpaan angin, dan membayangkan dirinya seperti superman yang sedang  terbang. Hmm, masa kecil kurang bahagia, sudah besar masih berfantasi seperti itu. 
Kupandangi tubuhnya yang berjalan menjauh, dia melangkah perlahan dan sesekali berhenti, menuju batu besar itu. Betapa aku ingin melangkah disisinya, merasakan kaki terbenam di pasir putih dan buih ombak membasahi. Tapi aku tahu, dia sedang ingin sendiri. Dia perlu waktu untuk mencerna dan menerima semua kenyataan ini. 
Aku sempat terkejut ketika melihatnya terduduk di atas sebuah pohon kering. Aku berlari mengejarnya. Tapi langkahku terhenti ketika kulihat dia duduk memeluk lututnya. Dia menangis. Bahunya naik turun menahan isak. Aku ingin merengkuhnya, membiarkannya menangis di dadaku. Tapi kakiku diam terpaku. Tak lama kemudian, dia mulai tenang. Dia duduk bersila, dengan posisi yoga dan mulai mengatur nafasnya. 
Kuhampiri dia, dan duduk disebelahnya. 

Itu satu dari sekian banyak fragmen kita. Terjadi bertahun tahun yang lalu. 
Aku selalu menceritakannya kembali dan berharap kamu bisa mengingat siapa aku. 
Laki laki yang sangat mencintaimu....

(Bali, betapa ingin aku kembali)

Sabtu, 15 September 2012

buat kamu...


Dari kabin kecil yang sejuk ini mengalun lagu lagu yang menemani perjalananku. 
Kuharap kamu ada di sini. 
Duduk manis di sebelahku. 
Kali ini, aku yang akan mendengarkan cerita ceritamu...
Sungguh, kuharap satu hari nanti, kita bisa bersama lagi. 
Aku hanya ingin berbagi bahagiaku denganmu. 
 
(serius beneran kangen, sampe nangis waktu nyetir) 

Jumat, 14 September 2012

Ayah...aku rindu...


Selamat malam ayah...
Sedang apa ayah di sana?
Apakah ayah baik baik saja?
Aku hanya mau bercerita, sekarang sudah punya rumah yang bagus ayah... 
Di halaman kutaruh batu batu supaya ayah bisa berjalan jalan sambil memijat kaki. Kata ayah, hal itu baik untuk kesehatan.
Di teras aku letakkan sebuah kursi jati, tempat ayah biasa membaca koran di pagi hari sambil menikmati hangatnya mentari.
Aku juga punya sofa kulit yang sangat nyaman untuk ayah menonton televisi.
Ohya, kamar mandi juga kurancang khusus untuk ayah, sehingga ayah tidak kesulitan lagi jika hendak ke kamar mandi.
Ayah, sekarang aku sudah punya mobil, aku bahkan bisa mengendarainya sendiri. Sungguh ayah, aku tidak berbohong hanya untuk menyenangkan hati ayah. 
Dengan mobilku, ayah tidak perlu lagi kepanasan saat mengendarai motor tua itu untuk bekerja. Ayah juga tidak perlu lagi berteduh di bawah jembatan layang saat hujan deras turun.
Sekarang hidupku nyaman dan aku bahagia, ayah..
Tidak pernah lagi makan nasi hanya dengan kecap, tidak perlu lagi menadangi atap rumah yang bocor dengan ember sewaktu musim hujan tiba.
Sepatuku banyak, aku tidak perlu  menyemir sepatu merah supaya jadi hitam seragam, dengan semir yang bisa luntur ketika basah saat melewati genangan air.
Ayah, aku masih suka ke laut. Walau tidak untuk memancing, seperti kegemaran ayah. Aku melarungkan bunga untuk ayah..
Aku tahu, kelak kita akan bersama lagi seperti dulu..
Ayah...aku rindu....

Kamis, 13 September 2012

Friendzone

Ayo cerita, seperti apa dia? 
Bagaimana aku harus menjawabnya? Siapa yang dapat tahan jika melihat mata bulat itu memohon?
Hmm, dia seperti kamu... Lucu, polos, bawel, cengeng, tomboy, seperti kamu..
Siapa namanya? Kapan kamu mau mengenalkan aku dengannya?
Nanti yaa...jika sudah tiba saatnya.
Kapan itu? 
Sudahlah, kita bicarakan hal yang lain saja ya?
Uuuhh selalu seperti itu... Ya udah, aku pergi dulu ya..
Cemberutmu itu, selalu membuatku gemas, tidakkah kamu menyadari itu?
Tentu saja tidak...
Dan kamu berjalan pergi setengah berlari atau melompat lompat (?) yang membuat kuncir ekor kudamu bergoyang goyang.
Aku menarik nafas panjang, kuelus dada ku, ingin aku bertanya pada hatiku, apakah kamu baik baik saja? 
Tidak ada orang lain di hatiku, hanya ada kamu. Tapi bagaimana aku mengungkapkan semua rasa yang ku punya, jika kamu hanya menganggapku sebagai teman belaka. Teman yang sangat mengerti kamu, mendengar semua cerita ceritamu, dari sulitnya soal ujian  sampai lelaki yang membuatmu jatuh cinta hanya 1 jam setiap harinya, siapa lagi kalau bukan bintang Korea itu. Aku menemanimu kemana mana, membantumu mengerjakan tugas, sampai mendaki gunung bersama. 
Aku tidak berani jujur tentang perasaanku karena aku tidak ingin kehilanganmu, aku tidak ingin kamu berubah, aku ingin selalu ada di dekatmu, dan menurutku hanya persahabatan ini satu satunya cara. Karena itu biarlah kunikmati rasa ini sendiri. Kamu berbahagia saja. 

******

Baginya aku mungkin hanya anak kecil yang bisa dengan seenaknya dia isik isik rambutku sampai berantakan, yang mentertawakan aku jika aku tidak bisa turun dari pohon mangga di belakang rumah, atau mengatakan bahwa otakku kurang "secomot" kalau aku tidak bisa mengerjakan tugas fisika.
Dia teman kakakku, dia pandai melukis, dia suka menulis, tapi penampilannya kelimis. Mungkin dia hanya seniman 'jadi jadian' belum menjelma jadi seniman sungguhan. 
Aku tahu dia suka menulis tentang seorang wanita, yang kelihatannya sangat sempurna. Dia juga pernah melukisnya, tapi hanya dalam bentuk sepotong wajah.
Andai itu aku...
Andai aku bukan gadis kecilnya...
Tahukah dia apa yang aku rasa? Tentu saja tidak..
Aku menarik nafas panjang, kuelus dada ku, ingin aku bertanya pada hatiku, apakah kamu baik baik saja? 
Aku tidak ingin kehilangan dia, aku tidak ingin dia berubah, aku ingin selalu ada di dekatnya, dan menurutku hanya persahabatan ini satu satunya cara. Karena itu biarlah kunikmati rasa ini sendiri. Kamu berbahagia saja. 

Minggu, 09 September 2012

Tips

Semoga beberapa tips ini berguna buat kalian.

- Kalau sudah tahu punya aritmia (debar jantung yang tidak beraturan) jangan coba coba nonton film horor.
Walau penasaran abis.
Walau rasanya kuat dan ga takut.
Walau nobar sama teman, pacar apalagi sendiri.
Walau malam minggu, apalagi malam jumat.
Walau siang hari, apalagi malam.
Pokoknya jangan, kalau tidak ingin aritmiamu kambuh ga udah udah, ujung ujungnya masuk RS.
Ditanya dokter, kenapa?
Deg deg an dok, abis nonton film horor....
(malunya kaya apa coba?)

- Kalau mau pingsan, di tempat tidur aja. Ini jurusnya bunbun, berdasarkan pengalaman. (emang bisa gitu?)
Biar ga susah ngangkatnya.
Biar ga di gelindingin karena ga ada yang kuat ngangkat.
Biar ga benjol karena terbentur.
Biar bisa langsung tidur kalau sudah sadar. 

- Kalau mau menyuap oknum petugas, lakukan dengan cara yang benar.
Menyuap untuk mempercepat urusan, dilakukan di awal, bukan di akhir. 
Oknum harus tahu kalau dia disuap, supaya dapat perlakuan khusus.
Cari info dulu sebelumnya, berapa rate nya. Supaya ga kemurahan atau kemahalan. 
(don't try this at anywhere, is very dangerous) 

- Kalau nyetir mobil dan mesti belok atau putar balik, ga perlu dihitung setir harus diputar 1,5 - 2x putaran. 
- Ga perlu belajar parkir sampai dibawa mimpi. 
Contoh : Kalau lagi mundur, setir ke kiri, ban belakang ke mana ya?
- Cuma kalau lagi parkir, balas membalas (setir) adalah hal yang sah dan benar. 
- Ga perlu nabrak untuk mengukur jarak terdekat dengan kendaraan di depan.

- Jangan minum pencuci perut sebelum meeting. 
- Kalau mau kurus, jangan makan.
- Kalau mau pinter, yaa belajar. Jangan baca blog ga jelas kaya gini...