Dalam genggaman tangan Tuhan

Dalam genggaman tangan Tuhan

Selasa, 29 Oktober 2013

kelas yoga sabtu pagi

Katakan bagaimana caranya agar aku amnesia,
supaya aku dapat melupakanmu.
Sementara setiap akhir minggu, 
kutenang di rumah tempatmu tumbuh.
Saat lagu mengalun lembut,
dan hanya degup jantung yang terasa,
bukan hening yang ada.
Tapi bayangan masa kecilmu,
berlarian dalam pikiranku.
Dan di sinilah aku sekarang,
melepas rinduku tanpa hadirmu...

Minggu, 20 Oktober 2013

Tahun nano nano


Di penghujung tahun yang masih tersisa dua bulan lagi, tiba tiba tersirat dalam pikiranku, betapa banyak hal yang sudah terjadi selama tahun ini. Untukku yang tidak suka merenungi berlalunya kehidupan, kali ini aku cukup terpana saat menyadari betapa tahun ini punya beragam rasa. Seperti permen nano nano, manis asam asinnya ada di tahun ini.

Di awal tahun aku berkenalan dengan teman-teman yang membuka duniaku melalui pintu yang lain. Pintu yang selama ini tertutup rapat. Teman-teman dengan pemikiran yang tidak biasa, berbeda dengan lingkunganku selama ini. Mereka membuatku merasa tidak "aneh" sendiri. Mungkin karena mereka sama anehnya denganku, hahaha...

Di tahun ini, aku juga bertemu cinta lagi.... 
Aku dua kali jatuh cinta tahun ini. Genit sekali ya aku ini. Hihihi...
Aku jatuh cinta pada laut, pada heningnya, birunya, ombaknya, terumbu karangnya, ikan-ikannya, pasir pantainya, hangatnya, semilir anginnya, lengket uapnya, cara mengamuknya, badainya dan semua yang ada padanya.
Aku juga jatuh cinta padamu. 
Pada lelaki yang mampu membuatku terpana dengan sikap patriotiknya. Ohoho.. aku tahu kamu tidak mau disebut "hero", baiklah...
(aku tak perlu membahasmu panjang lebar di sini kan? Karena kamu sudah/akan cukup banyak terungkap dalam alinea-alinea ceritaku, bait-bait puisiku dan lagu-laguku).

Tahun ini adalah tahun berkegiatan untukku....
Kadang kulupa dengan sakitku, saat aku snorkeling, hiking, kemping atau outing. Semua kulakukan dengan senang hati, sampai tiba-tiba aritmia dan syncope mejatuhkanku, KO!! hehehe..
Dan dokter akhirnya memutuskan untuk menanam alat perekam jantung yang punya nama keren, Implantable Loop Recorder (ILR) di dadaku awal November nanti. Alat ini membantu mereka mendiagnosa hal abnormal pada jantungku. Dari hasil itu dokter bisa menentukan apakah tindakan selanjutnya yang harus dilakukan. Tentu saja setelah alat ini tertanam, ada beberapa hal yang tidak sama lagi, setidaknya untuk 3 tahun ke depan.
Aku tidak boleh melewati metal detektor dan menghindari medan magnet, atau apapun yang bisa mengacaukan hasil rekaman dan menyebabkan gangguan pada alat tersebut. 
Tidak bisa lagi memanggul ransel atau mengangkat beban berat yang bertumpu pada bahu dan beberapa larangan lain yang sama seperti para pemakai pacemaker hindari.
(Semoga dokter tidak melarangku bercinta, walau karena itu mungkin mereka akan menemukan rekaman degup abnormal di saat tertentu. Hahahahaha.. ;)

Di tahun yang sama, teman temanku juga mengalami beragam peristiwa dalam hidup mereka, ada yang bercerai dengan pasangannya dan ada yang justru baru melepas keperjakaannya (hahahaha...semoga dia tidak baca ini). Ada yang putus dengan kekasihnya dan mendapat kekasih baru. Ada yang resign dari pekerjaannya dan meneruskan kuliah lagi. Ada yang meninggal dan ada baru mendapat bayi. Ada yang baru memulai usaha, ada juga ada yang pailit. Ada yang sakit, ada yang survive dari penyakit. Ada senang, ada susah, ada biasa-biasa saja, tapi semua jadi luar biasa bukan?

Masih ada dua bulan sebelum tahun ini berakhir, banyak hal bisa terjadi. Tugasku hanya menjalani dan menikmati manis asam asinnya. 
Yang jelas, aku sendiri memutuskan untuk berbahagia. 
Hidupku sempurna karena tidak sempurnanya.

Selasa, 15 Oktober 2013

Lelaki itu kamu...


I See The Light - Tangled
All those days watching from the windows
All those years outside looking in
All that time never even knowing
Just how blind I've been
Now I'm here, blinking in the starlight
Now I'm here, suddenly I saw
Standing here, it's all so clear
I'm where I am meant to be

And at last I see the light
And it's like the fog has lifted
And at last I see the light
And it's like the sky is new
And it's warm and real and bright
And the world has somehow shifted
All at once everything looks different
Now that I see you
 

All those days chasing down a daydream
All those years living in a blur
All that time never truly seeing
Things, the way they were
Now she's here shining in the starlight
Now she's here, suddenly I new
If she's here it's crystal clear
I'm where I'm meant to go
And at last I see the light
And it's like the fog has lifted
And at last I see the light
And it's like the sky is new

 And it's warm and real and bright
And the world has somehow shifted
All at once, everything looks different
Now that I see you 


Kali ini aku ingin menulis tanpa frasa, tanpa tata bahasa, tanpa runutan cerita. Kali ini aku hanya ingin menumpahkan semua rinduku untukmu.

Untuk seorang lelaki yang punya cita cita sama denganku, memiliki sebuah kabin di gunung, dekat air terjun atau tepi kebun teh. 
Kabin yang bisa membuat kita malas kemana-mana karena terlalu nyaman menikmati indah dan heningnya alam.
Mungkin lucu kalau kita bisa bertetangga atau berbagi atap bersama.
Hahahaha, aku tahu..tidurmu tak akan bisa nyenyak bila di dekatku. Entah karena kuatirmu atau karena menahan deru yang membuat degup dadamu bergemuruh. 

Ya, rindu ini sedang hebat-hebatnya...perih seperih-perihnya... 
Rindu pada seorang lelaki yang mencari bintang untuk membuatku tetap terjaga saat kakiku rasanya tak kuat lagi melangkah. 
Lelaki yang ingin kutiduri bidang dadanya yang pernah terluka dan menyisakan jaringan parut sebagai akibatnya.
Lelaki yang awalnya ragu untuk mencium bibirku, namun penuh kehangatan saat memeluk tubuhku dan mampu membuatku menyerahkan diriku utuh penuh....
Lelaki yang ingin kujaga baik-baik hatinya yang pernah terluka.
Lelaki yang kemudian pergi berkelana dan meninggalkan aku dalam lautan rindu tak bertepi.

Kamu tahu, betapa inginnya aku untuk bertemu denganmu lagi. Menghabiskan waktu bersama di tengah laut biru, atau di bawah kerlip bintang, memandangi kelam malam yang dihiasi pemandangan lampu kota yang membentang. 
Atau sekedar duduk di sofa sambil menonton film animasi. Mendengar suara beratmu, tawa terbahakmu dan celetukan spontanmu yang kerap membuatku terpingkal-pingkal. 
Memandang matamu yang begitu hitam, mengelus rambutmu, memijit punggungmu, mengecup telingamu dan bersandar dalam rengkuhanmu.  

Bersamamu aku tak takut apapun, bahkan kematian sekalipun. Kita ini orang-orang yang dijauhi agen asuransi jiwa. Hahaha.. Karena itu aku merasa aman dan nyaman bersamamu, apalagi jika hanya untuk mencoba hal hal baru atau mendatangi tempat baru, kamu adalah orang yang tepat untuk menemaniku.

Aku bahagia bersamamu, aku tahu kamu juga demikian, aku ingat betul bagaimana kamu mengatakannya. Betapa kita menikmati detik demi detik kebersamaan kita. Seolah hari itu adalah satu satunya hari dalam hidup kita. 
Aku mengerti, aku harus sabar menanti. Menunggumu menyelesaikan tugasmu yang bagai cerita dongeng untukku.
Dan aku ingin ketika kamu kembali, perasaanmu tidak berkurang terhadapku melainkan bertambah dengan cinta yang lebih berlimpah. 

Akhirnya kututup tulisan ini dengan sebuah pinta.
Tuhan, terimakasih Kau ijinkan aku mengecap cinta, ijinkanlah juga aku untuk memilikinya...

(ini aku yang sedang rindu padamu, lelakiku...)

Sabtu, 05 Oktober 2013

Cinta tak pernah salah

Matanya berbinar saat sedang bercerita, celotehnya banyak, kalau bicara bentuk mulutnya lucu, membuatku gemas ingin mengecupnya. 
Aku mengenalnya saat menonton pagelaran wayang beber. Pertemuan demi pertemuan berlanjut. Pernah suatu saat aku agak mabuk, karena tidak terbiasa minum minuman keras. Saat teman-teman lain mengolok-olokku, dia yang menenangkan dan memberiku minum untuk menetralkan efek alkohol yang membuat panas wajahku. Dia sendiri tidak menyentuh minuman itu sama sekali. Itulah saat pertama aku mulai menyukainya. Perhatiannya tulus.

Tiada hari tanpa kabar, tanpa cerita. Banyak topik yang bisa jadi bahan perbincangan kami. Aku selalu rindu berbincang dan mendengar suaranya. Dia malah terkadang jatuh tertidur saat berbincang denganku. Katanya suaraku membuatnya tenang dan mengantuk.
Tapi dari semua topik yang kami bicarakan, yang sangat menyakitkan hatiku adalah saat dia mulai bercerita tentang kekasih barunya. Dia bercerita begitu detail apa saja yang dia rasakan dan mereka lakukan bersama. Ada gemuruh yang siap meledak di dalam dadaku saat seperti itu. Tapi aku mampu menahan diriku.  

Kami kerap menghabiskan akhir pekan bersama, dia akan mengajariku berenang. Ya..aku memang tidak bisa berenang. Dia akan memegang tanganku dan menariknya sementara aku belajar mengayuh kakiku. Berkali kali aku meminum air kolam. Dia hanya tertawa jika melihatku tersedak. Katanya itu biasa bagi pemula. 

Biasanya setelah kami berenang, kami akan kelelahan dan akan menghabiskan waktu di kamarnya yang sejuk, sambil mendengarkan lagu lagu cinta. Damai sekali rasanya bisa berada sedekat ini dengannya. Berbaring di dekatnya membuat degup jantungku tak teratur. Aku ingin memeluknya, menyentuhnya, menciumnya. Betapa aku berharap dia mempunyai perasaan yang sama denganku. Jika kutatap matanya dalam dalam saat bercerita, dia akan segera berpaling menghindari tatapanku yang seolah terpaku padanya. 

Hari ini setelah lelah kami sirna, dia berkata padaku. 
Kamu itu kenapa tidak suka bersolek? Setidaknya pakailah bedak atau lipstik. Kamu tak membutuhkan banyak riasan karena kamu sudah cantik. Alami. 
Lalu dia mengeluarkan alat alat kosmetik miliknya dan mulai mendandani aku. Kubiarkan saja tangannya melukis wajahku. 

Ya, inilah aku. Panggil saja aku Nita. Dan gadis manis yang sudah membuatku jatuh cinta itu bernama Lara.
Aku tahu cinta tak pernah salah.
Betapa ingin kuungkap semua rasaku untukmu...

Jumat, 04 Oktober 2013

Humpty Dumpty

Humpty Dumpty sat on a wall
Humpty Dumpty had a great fall
All the king's horses and all the King's men
Couldn't put Humpty together again......


Perlahan lagu kanak kanak tentang manusia berkepala telur itu tergiang di telinga Asa. Ditatapnya lelaki yang sedang tertidur pulas di sisinya. Bentuk kepalanya oval, seperti telur...seperti humpty dumpty. Asa tersenyum sendiri menahan tawa, agar tidak membangunkan lelaki itu. Kedua lengan lelaki itu masih memeluknya, seolah hendak melindunginya dari dingin malam yang menusuk tulang.
Kelopak matanya seperti mata wayang, panjang segaris dan tengah terpejam, Asa bisa merasakan hangat hembusan nafasnya.
Di luar tenda, suara jangkrik hutan bernyanyi tanpa mampu menghilangkan senyap yang ada.

Asa belum terlalu lama mengenal lelaki itu. Tapi dia dengan mudah mengambil hatinya. Asa tidak mudah jatuh cinta, karena hatinya pernah sedemikan patahnya. Bukan hal yang bersifat fisik dan materi, tetapi sikap dan perlakuan lelaki itu terhadapnya yang bisa membuatnya kembali luluh.

Lelaki itu lucu, celotehannya bisa membuat Asa terpingkal-pingkal. Asa nyaman berada di dekatnya, apalagi setelah pada suatu saat ketika sakitnya kambuh, lelaki itu dengan tenang merawatnya dan tahu apa yang harus diperbuat. Dia bukan dokter, Asa bahkan tidak tahu apa pekerjaannya. Dia bisa berada di mana saja. Bisa berhari hari tanpa kabar, bisa juga berhari hari menemaninya bercengkerama dengan alam.
Seperti hari ini. 

Ketika berkemah kembali, nyaris hanya tinggal mimpi bagi Asa, lelaki itu membuatnya terwujud. 
Tertatih menuju air terjun, yang baginya sebagai pendaki hal itu dulu adalah pekerjaan mudah. 
Duduk bersandar di batu besar menikmati kerlip bintang, riak sungai kecil, dan sepasang kunang kunang yang terbang di gelap malam. 
Menyusuri hutan keramat, melihat monyet-monyet yang sedang bermain di dahan, sampai mencium aroma wewangian yang mengikuti sepanjang perjalanan, yang entah darimana asalnya. 
Memadang lampu kota dari ketinggian. 
Menikmati hujan dan dingin malam di tengah perkebunan teh, semua mereka lakukan bersama.

Pernah Asa bertanya, apakah lelaki itu peduli padanya?
Dia hanya menjawab dengan lugas, bagian mana yang membuatmu tidak mengerti?
Asa terkejut dan terdiam, berusaha mengartikan maksud dari kalimat itu.
Tidak ada kata cinta atau sayang yang diucapkan, yang bisa membuatnya teryakinkan.
Karena memang sulit baginya untuk mempercayai begitu saja bahwa semua tindakan yang dilakukan lelaki itu berdasarkan cinta.
Ah sudahlah pikirnya. Biarkan semua mengalir saja.
Bagi Asa hampir semua mimpinya sudah menjadi nyata...
Tinggal permintaannya terakhir, bahwa Asa ingin menghabiskan hari harinya dengan orang dia cinta dan mencintainya. Apakah lelaki ini jawabannya? Asa tidak tahu. Masih terlalu dini untuk menyimpulkan apapun. 

Sekembalinya dari perjalanan itu, mereka sudah merencanakan perjalanan berikutnya dan kegiatan bersama yang membuat hidup terasa lebih bermakna. 
Sampai suatu ketika, sebuah pesan singkat Asa terima....
Maaf, aku mendapat tugas. 
Aku harus berangkat. 
I'll be right back..

Berangkat? Ke mana? Sampai kapan? Ada apa ini? Bagaimana dengan rencana kita? Kegiatan kita? Apakah kita akan bertemu lagi? Apa sebenarnya tugasmu? Bisakah kamu menjaga dirimu untukku? Apakah semua ini hanya kebohongan semata?
Sejuta tanya menyeruak, tapi tanpa jawab...
Komunikasi mati...
Asa merasa sangat kecewa. Belum tuntas bahagia yang baru saja direguknya. Hatinya kembali patah.

****

Di sebuah hutan di perbatasan negara, beberapa orang berdiri dengan senjata di tangan, dan seseorang di antaranya menodongkan senjata di kepala telur seorang lelaki bertubuh tegap dan memaksanya untuk berjalan hingga ke bibir jurang yang tak terlihat dasarnya. 
Lelaki itu teringat sepasang kunang kunang yang membuat kekasihnya begitu bahagia.
Lelaki itu masih bisa merasakan harum aroma rambut kekasihnya, lembut bibirnya, lengan dinginya, dan kerapuhan yang membuatnya selalu ingin menjaganya. 
Lelaki itu teringat janjinya untuk kembali. Janji yang begitu ingin dia tepati.

Dalam satu hentakan tembakan, semua ingatan itu hilang. Tubuh perkasa itu terlempar ke dalam gelap jurang. 

Ratusan kilometer dari tempat itu, sebuah lagu tergiang di kepala Asa. Sebuah lagu kanak kanak yang baginya menjadi sebuah pertanda entah apa.....

Humpty Dumpty sat on a wall
Humpty Dumpty had a great fall
All the king's horses and all the King's men
Couldn't put Humpty together again......


 

Senin, 30 September 2013

aku suukaaaa kecupan...... :)


Kini aku bisa menikmati, ketika seseorang menggenggam tanganku.
Karena itu genggaman tanganmu..
Kini aku tidak menolak ketika seseorang mengecupku. 
Karena itu kecupan darimu...

Akhirnya aku menyadari,
aku sangat suka kecupan, 
juga sangat menyukai sentuhan, 
apalagi genggaman.
Dan aku hanya ingin melakukan itu denganmu.

Finally..
I found you... 

Selasa, 30 Juli 2013

Telaga kunang kunang



Di sinilah aku, di tepi sebuah telaga di tengah Jawa. Kamu pernah bercerita, ada sebuah telaga indah dengan tepian batu-batu pipih di sini. Telaga yang terhubung ke laut tapi tawar airnya. Telaga yang jika malam menjelang dan saat pekat menyergap, dari dalam airnya akan bermunculan seribu kunang-kunang. Pemandangan yang membuatmu termanggu. Kerlip kerlip kecil di tengah kegelapan sempurna, begitu indah menurutmu.
Kunang-kunang? Tentu saja bukan. Itu sekumpulan udang dengan kepala yang mengandung fosfor sehingga terlihat menyala saat gelap. Tapi kamu berkeras, itu kunang-kunang air. 

Itu ceritamu sewaktu kamu masih sehat, ceria dan cerewet. 
Aku sekarang mengerti sakitmu sayang, mitral valve prolaps kan namanya? Gangguan pada salah satu katup di jantungmu, sehingga tidak dapat menutup dengan sempurna. Cacat bawaan, tidak ada yang menginginkan hal ini sayang. 
Lama kelamaan katup mitralmu mulai bocor, dan supaya tidak menanggungnya sendirian, alampun membagi kebocoran itu dengan katup lainnya, triscupid. 
Gradenya pun perlahan naik, yang berarti tingkat kebocorannya semakin membesar. 
Dan kelainan itu disertai dengan timbulnya ventrikel extra systole, kelainan pada sistem kelistrikan di jantungmu. Ada pembangkit listrik liar yang timbul, yang mengacaukan irama jantungmu. Para dokter sudah mencoba untuk melakukan ablasi, tapi tidak berhasil.
Ketika darah yang dipompa oleh jantungmu sebagian berbalik kembali, dan itu membanjiri jantungmu, pada saat yang sama aritmiamu datang, jantungmu rasanya seperti meledak... 
Aku tahu itu sangat menyakitkan, lalu tubuhmu akan merasa seperti melayang dan kemudian kehilangan kesadaran. 
Aku tahu itu juga sangat menakutkan untukmu, jika sudah sesakit itu kamu akan berpikir, apakah ini kali terakhir kamu melihat dunia, atau kamu berharap Tuhan segera mengambil nyawamu supaya kamu tidak lagi merasa sesakit ini. 

Tapi ada berita baik dari hasil echocardiography terakhirmu, fungsi jantungmu secara keseluruhan meningkat, menjadi lebih baik, tidak lagi di ambang batas gagal jantung. Jempolku untukmu sayang. Berarti kamu sudah menjalani pola hidup yang baik, mulai mahir mengatur pekerjaan, istirahat, olahraga, makanan dan pikiran. Kamu sudah mengenali tubuhmu sendiri.

Itu yang membuatku bertanya, mengapa ketika kondisimu stabil seperti ini, tiba-tiba kamu pergi? 
Katamu ini karena Tuhan mencintaimu lebih daripada aku mencintaimu. Itu karena kamu tidak tahu betapa dalamnya cintaku padamu. 
Menurutku ini karena kamu lebih mencintai Tuhan daripada kamu mencintai aku!! 

Dan kini, yang kupeluk hanya sebuah guci berisi butiran debu....
Di atas sampan yang kukayuh, di tengah telaga kunang-kunang tempatmu termanggu. Di sinilah kamu kembali. 
Angin semilir menimbulkan riak riak kecil dan perlahan kunang-kunangmu bermunculan, kerlip kerlip indah itu.....
Kubuka tutup guci, dan perlahan kutaburkan abumu menyatu kembali dengan alam.
Air telaga akan menuju ke laut lepas, dan laut akan menjadi hujan, yang kembali mengalir ke laut. Demikian siklus kehidupan akan selalu berputar.
Tapi waktuku berhenti di sini. 
Di telaga ini.....

freedom....

Rabu, 24 Juli 2013

lelaki berikutnya 2

Masih ingat saya mbak? Suara itu mengejutkannya. Ditatapnya lelaki berkacamata yang mengingatkannya pada suatu malam. Dia lelaki yang hanya ingin mendengarnya bercerita, bukan ingin menggumuli tubuhnya.
Ya, tentu saja saya ingat, katanya tersenyum. 
Kali ini mereka tidak lagi bertemu di kamar pengap.Tapi di lobby sebuah hotel berbintang lima. 
Dan pertemuan pertama berlanjut menjadi pertemuan-pertemuan berikutnya. Mungkin itu kencan, mungkin juga bukan. 
Lelaki itu membuatnya nyaman, sehingga kini ia mampu bercerita tentang apa saja, kecuali tentang dirinya. 
Namun lelaki itu tidak pernah memaksanya, ia dengan setia mendengar apapun yang diceritakan olehnya.

Mereka menjadi dekat, namun lelaki itu tidak pernah menyentuhnya. Dan dia menikmati penghormatan terhadap raganya itu. 
Senja ini, dia meminta lelaki itu bercerita, sebuah permintaan yang sudah sekian lama dipendamnya.

Aku lelaki biasa. Aku seorang suami tapi belum menjadi seorang ayah. Entah di mana masalahnya. Aku suka membaca dan melihat dunia, keunikan masing masing daerah, budaya, manusia dan alam yang berbeda-beda. Sangat istimewa. 
Aku bersahabat dengan istriku. Soal cinta mungkin sudah lama berubah bentuknya. Tidak ada lagi rasa cemburu, bahkan ketika istriku bercerita bahwa dia punya kekasih lagi. Kalau itu membuatnya bahagia, ya silahkan saja. Aku tidak melarangnya. Aku hanya mewanti-wanti agar tidak ada hati yang tersakiti dan bermain cantik agar tidak memancing keributan. 

Dia tertegun mendengar cerita lelaki itu.... bibirnya kelu, seperti malam itu. Dia membayangkan betapa sakitnya.
Tapi lelaki itu hanya tersenyum, aku tidak apa apa.. aku baik baik saja, sungguh! Mbak tidak perlu berduka untuk hal ini. Karena apa yang kurasakan sekarang lebih menyakitkan daripada ceritaku tadi.

Mbak ingin tahu bagaimana aku bisa mengenal mbak? Awalnya aku hanya menjalankan tugas. Seorang wanita yang cemburu memintaku untuk mengamati mbak dari jauh. Karena dia pikir suaminya punya hubungan dengan mbak. Dan ternyata dugaannya benar. Suaminya pelanggan setia mbak. Dan sekarang mbak tidak perlu lagi susah bekerja, karena mbak sudah menjadi simpanan suaminya.  


Dia sangat terkejut. Lelaki ini tahu semua rahasianya. Alarm bahaya berbunyi kencang dalam hatinya. Sebagian dirinya ingin pergi menyelamatkan diri, entah dari apa. Tapi sebagian lagi ingin menyerah untuk menebus semua dosa.

Mbak baik-baik saja? kata lelaki itu seraya menyodorkan segelas minuman. Minumlah mbak. Biar tenang hati mbak.

Dengan sadar diteguknya isi gelas itu, dihantarkan dirinya pada maut yang sudah menunggu, dalam hati ia berdoa
"Biarlah kiranya cawan ini lalu dari padaku...!" 
Dan dalam sekejap, dirasanya dunia berputar mengajaknya berdansa di udara. Itu menjadi kala terakhir dia melihat dunia. Lalu semua menjadi gelap.

Maafkan aku mbak. Aku harus melakukan ini. Karena wanita yang cemburu itu adalah ibuku sendiri....

Rabu, 17 Juli 2013

buah cinta


Seragamnya putih biru, dengan rok yang terlihat mulai pendek bagi kakinya yang panjang, setiap pulang sekolah dengan setia dia menanti sampai sekolah sepi. 
Lalu dikeluarkannya sebuah toples kecil dari dalam tas. 
Dipungutinya satu demi satu butiran buah cinta yang jatuh ke tanah. 
Buah kecil berwarna merah sebesar ujung kuku, yang kerap terjatuh saat ibu bilahnya mulai mengering.
Ia ingat pernah berkata, ini pohon petai cina, keluarga lamtorogung. 
Tapi kekasih kecilnya berkata, ini pohon cinta dan buahnya buah cinta, warnanya merah. Seperti bibirmu.
Mereka berdua gemar duduk di bawah pohon cinta. Dan pikiran mereka akan berkelana. 
Kekasih kecilnya kerap berkata, 
"Cintaku padamu seperti pohon ini. Tidak akan pernah berpindah ke mana-mana. Percayalah!"
Dan dengan naif dia percaya kata kata kekasih kecilnya itu. 
Lalu mereka akan memunguti buah buah cinta yang berjatuhan di tanah. Digosoknya ke baju supaya bersih dari butiran debu yang menempel. 
Mereka akan bertukar buah cinta yang mereka dapat hari ini.
Ahaa, punyaku ada 41...
Kamu hanya 36 buah..
Berarti hari ini cintaku lebih besar dari cintamu.

Kadang mereka berbantahan. 
Buah cinta yang ini jelek, lihat sudah rusak. Jangan dihitung dong. 
Atau, yang ini masih kotor, aku tidak mau. 
Mereka hanya mau buah cinta yang sempurna bentuk, warna dan bersihnya. 

Sesampainya di rumah mereka akan memasukkan buah buah cinta itu ke dalam toples dan selama ini, isi toples mereka berimbang. Mereka mengartikan itu sebagai cinta yang sama besarnya. 
Tapi indah itu tak lama. Pohon cinta memang tidak pernah pindah tetapi kekasih kecilnya harus pergi, pindah ke lain kota. 
Dan sejak itu, dia tidak bersemangat lagi mengumpulkan buah buah cintanya.

******

Sudah ratusan kali dia pergi ke kebun raya. Menikmati rimbunnya pepohonan, melihat bangau di tengah danau dan kelelawar  yang bergantungan bagai buah kapuk. Tapi baru kali ini dia melihat buah buah merah kecil itu berjatuhan di tanah. 
"Mas... ini buah cinta.. !!" Katanya dengan gembira. 
Tetapi aku hanya tertawa, "Ah kamu itu...semua dibilang cinta. Ada pulau cinta, pohon cinta, sekarang  buah cinta...!"
"Tapi mas, ini memang buah cinta...!" Katamu lagi.
"Ya ya ya ya, apa katamu saja!" Jawabku tak ingin berdebat.
Kutinggalkan dia yang asik memunguti buah buah cintanya itu.
Kutunggu dia di mobil.
Dia meletakkan dua butir buah cintanya di dashboard mobilku. Tak kulihat airmata yang menggenang di pelupuk matanya.

******

Sesudah mengantarnya pulang, aku bergegas menuju rumah. Kuambil sebuah toples dari lemari kaca.Toples berisi buah cinta.
Ingatanku terlempar ke masa lalu. Saat aku kerap mengumpulkan buah cinta bersama kekasih kecilku.
Dan kini, tanpa sengaja kami bertemu lagi melalui sosial media. Hanya saja dia tidak mengenaliku dan tidak pernah tahu bahwa aku adalah kekasih kecil yang pernah meninggalkannya dulu.
Tak lama waktuku untuk melamun, ketika kudengar teriakan malaikat kecilku berkata, papa pulang...
Kuangkat tubuh mungilnya seraya berkata, main dulu sama mama ya sayang. Papa ganti baju dulu.

Pernah kuingkari sebuah janji, bahwa cintaku tak akan pernah berpindah hati. Kuusap toples tua berisi ratusan butir buah cinta, yang pernah kami kumpulkan dulu, sewaktu masih berseragam putih biru. Kini isinya bertambah dua. 

Kebun Raya, Juli 2013

Jumat, 05 Juli 2013

alamat...

Kuelus lembut rambutnya yang tipis. Beberapa helai jatuh di tanganku. Kutahan airmata yang hendak menitik jatuh. Kucoba untuk tersenyum. walau berat rasanya. Kutarik nafas panjang...

Sayang, kalau kamu mau tahu, dari semua laki laki yang pernah menyukaiku, cuma kamu yang paling gila. Yang suka tertawa dengan keras, bicara konyol, latah, tidak pakai jaim dan suka main tubruk kaya busway. 
Awalnya tidak ada rasa suka sedikitpun yang kurasa terhadapmu. Sampai beberapa kali kita jalan bersama dan berbagai sisi dirimu yang kulihat. Sampai saat itupun aku tidak yakin. Kita seperti berasal dari dua belahan dunia yang berbeda. 
Kamu hanya ingin bersenang senang, sementara aku lebih serius menghadapi hidup. Mungkin sisi seriusmu sudah kamu habiskan untuk pekerjaanmu. Sehingga saat bersamaku kamu hanya ingin lepaskan semua beban hidup itu.
Dan caramu cemburu? Membuatku tidak menyangka kalau orang sesantai kamu bisa memiliki perasaan seperti itu juga. 

Tapi kini lihatlah... tak tersisa semua gelak tawamu, sikap gilamu. Yang kulihat hanya sesosok tubuh kurus dengan tubuh hanya tinggal tulang, kulit yang kering berkeriput dan rambut yang rontok. Kanker paru, sudah merenggut semua ceriamu. Terlalu belia usiamu saat semua ini datang. 

Perlahan matamu mengerjap dan bibirmu terbata hendak bicara. Kedekatkan telingaku, tapi tak ada suara yang kudengar. Aku tahu waktunya sebentar lagi tiba. Kupeluk tubuhmu yang terasa ringan dalam dekapku. Tubuhmu mengejang sesaat sebelum lunglai. Selamat jalan sahabat, sampai kelak kita berjumpa lagi.
Perlahan tubuhmu mulai dingin dan memberat. Para perawat memintaku untuk melepaskan pelukanku. 
Ijinkan aku memeluknya sesaat lagi? Pintaku memohon.
Tapi dengan lembut mereka menarikku menjauh.

******

Satu pertanyaanku yang belum kamu jawab semasa hidup, di mana alamatmu?
Sekarang aku tahu...
TPU Kampung Kandang Blok AAI.