Dalam genggaman tangan Tuhan

Dalam genggaman tangan Tuhan

Rabu, 18 November 2015

Janji

Nanti kita ke Raja Ampat ya, katamu dulu.
Dengan antusias aku mengangguk. Mau mau mau...
Tapi nyatanya kesehatanku tak kunjung membaik. Nyaliku sekarang kecil, keinginan untuk menjelajah, kalah oleh sesak yang kerap mendera.

Sore tadi kuterima pesan singkat darimu.
Dinda, dihadapanku laut begitu biru, tapi dalam ingatanku hanya ada kamu.

Aku menangis membaca pesanmu.
Raja Ampat, apakah kelak kita sempat bertemu?

Selasa, 04 Agustus 2015

Mas...

Aku ingat perkenalanku dengannya sewindu yang lalu. Awalnya aku hanya penggemar coretan tangannya, yang biasa kulihat di sebuah koran terbitan ibukota. Dan secara tidak sengaja, aku berhasil kontak dengan dia.

Dia lucu dan pasrah jika dicela atau digoda.
Beberapa kali dia minta fotoku, aku memang pelit untuk urusan yang satu itu. Mungkin karena sadar, aku bukan tipe wanita cantik yang mampu membuat lelaki memutar kepala atau melirik sampai matanya keluar.
Di sisi lain aku memang senang menjadi sosok yang misterius (mungkin ini efek terlalu banyak nonton film detektif). Setelah berkali kali aku tolak, dengan kelihaian ngeles yang lebih jago dari bajaj, akhirnya satu saat aku terpojok juga.

Ketika dia meminta fotoku lagi, aku jawab, aku minta foto mas dulu. Baru nanti aku kasih fotoku.
Padahal asli, aku tidak berminat untuk tahu sosoknya, karena aku tidak ingin bayanganku tentang dia berubah, setelah aku tahu sosok aslinya.
Dengan santai dia berkata, loh jadi selama ini kamu belum tahu aku seperti apa ya? Hahahaha.. coba gugling aja..
Hmm..nama lengkapmu mas?
Hahahahahaha...jadi kamu juga tidak tahu nama lengkapku? Yuu kita kenalan lagi..
Yayaya, aku memang malas kepo. Malas cari tahu. Tapi akhirnya aku gugling juga.
Dan... kagetlah aku setelah tau siapa dia. Karyanya yang mendunia, penghargaan ini itu, bahkan pernah masuk guiness book of record!!
Lelaki 'sederhana' yang suka makan bakwan sambil klepus2 cabe rawit, lelaki dengan hape jadul yang suka 'ketlingsut', lelaki sensitif, romantis, rapuh, tapi luas cara pandangnya tentang dunia.
Aku shock. Aku tidak siap dengan kenyataan itu. Dan aku menghilang darinya.

Berkali kali dia menghubungiku, permintaan maaf membanjiri pesan2nya, tidak satupun kujawab dan kubalas.
Dalam hati aku berkata, tidak perlu minta maaf mas, semua bukan salahmu.

Dan akhirnya diapun berhenti mengirim pesan.

Hari berganti, tahun berlalu. Entah angin apa yg membawanya kembali mengirim pesan padaku.
Entah kemana juga "urat malu"ku, sehingga aku membalas kembali pesan-pesannya.
Kami tak pernah lagi membicarakan masa lalu, tak pernah membahas soal foto yang menjadi pangkal masalah dulu, aku jadi lebih santun, tak pernah lagi meledek dia.
Sebenarnya dia ingin protes, karena dia rindu ledekan-ledekanku, rindu sikapku yang santai dan tidak jaim (jaga image) tapi kalau protes, dia kuatir aku menghilang lagi. Jadi terserah aku maunya apa, dia ikut saja. Yang penting kamu ada. Begitu katanya.

Tahukah kalian apa sebenarnya yang membuatku malu?
Aku pernah mengirimi dia pesan singkat "mama minta pulsa". Dan dia benar-benar mengirimi aku pulsa. Hahahaha.

Ya, dia salah seorang temanku yang unik, dan aku memanggilnya mas Ji....

Sabtu, 23 Mei 2015

Terkilir

Kamu tulang, aku otot,
Tak sempurna jika sendiri,
Tak berarti jika yang satu tersakiti...

Ini bukan pelajaran biologi, bukan juga kisah romantis. Ini cerita yg membuatku meringis karena menahan sakit.
Kira2 dua bulan lalu, lutut kiriku terkilir. Setelah itu, berjalan menjadi sangat menyakitkan. Aku bahkan sempat menggunakan tongkat untuk membantuku beraktifitas. Singkat cerita, dari terkilir ini aku belajar banyak hal...

Tulang persendian kita bisa bergerak karena adanya otot yg mengikat (ada ligamen, tendon, namun aku tidak akan membahas itu). Sedemikian baik otot menjaga tulang2 ini, membalutnya dan tidak membiarkan tulang terluka tanpa melukai otot lebih dahulu.
Dan ketika ototmu terkilir, tulang kehilangan kekuatannya.... tak mampu lagi mengangkat, bergerak atau menahan tubuh. Tulang menjadi tak berarti jika harus berusaha sendiri.
Demikian juga yg terjadi pada otot, jika tulang terluka, entah karena patah atau retak. Otot yg kuat dan terlatih, tak mampu berbuat apa2 sebelum tulang pulih. Ototpun tak mampu bekerja sendiri.
Tulang kadang melukai otot, walau mungkin sebenarnya tidak bermaksud demikian.
Pernah dengar syaraf/otot terjepit di ruas2 tulang belakang? Sakitnya bahkan bisa mengakibatkan kelumpuhan!
Atau pernah dengar osteofit, spondyloartritis? Kondisi dimana tulang meruncing (membentuk taji) karena degenerasi, trauma berulang dan sebab2 lain. Taji ini menusuk/menggesek otot sehingga tentu saja rasanya sangat menyakitkan. Bayangkan saja dagingmu tertusuk tiap kali bergerak.
Walau demikian, otot tidak pernah membalas apa yg tulang lakukan padanya. So sweet yaa..

Jadi menurutku, kisah cinta sejati itu semestinya seperti tulang dan otot, satu sama lain saling membutuhkan, menjaga, melindungi dan tidak membalaskan hal yg sama jika tersakiti. Mereka setia satu sama lain...

Pernah dengar kalimat manis yg kurang lebih seperti ini,
Kita masing2 seperti burung bersayap satu yg tidak bisa terbang jika sendiri. Kita bisa terbang jika saling berpelukan.
Itu ungkapan sangat romantis bukan? Namun tidak sepenuhnya benar, karena dua burung tidak bisa terbang jika hanya menggunakan dua sayap.
Jadi menurutku tulang dan otot adalah rayuan yg lebih realistis...hahahahaha...
Semoga kalian menemukannya ya..

Nb. Maaf jika sekian lama aku tidak sempat membuat postingan baru.
Salam rindu untuk kalian yang suka mampir ke blogku.

Bunga ilalang

Aku menyebutnya bunga ilalang.
Mereka seperti kita, berdekatan namun tidak bersentuhan.
Karena batang yang rapuh hanya diam terpaku.
Kadang angin menjadi mak comblangnya.
Semilirnya menjodohkan kita.

Sabtu, 27 Desember 2014

Buat kamu yang patah hati

Hujan sedari pagi,
Daun daun mandi,
Mentari lagi cuti,
Aku ngelamun sendiri....

Teringat olehku perbincangan semalam dengan seorang teman, yang sedang terluka karena pengkhianatan.
Yang paling menyakitkan dari dikhianati adalah ketika kita merasa bodoh dan buruk rupa, remeh juga tak berharga.
Lalu hari hari menjadi penuh ratap...
Berpangkal tanya, aku salah apa??
Berujung sumpah, semoga Tuhan membalas, semoga aku berkesempatan melihat Tuhan membalaskan lukaku, aku akan menunjukkan bahwa aku lebih berharga dari kekasih barunya dan sejuta sumpah lainnya...
Namun semua itu tak menyembuhkan luka menganga yang kerap berdarah.
Kadang kita menggila, marah dan dendam kesumat, membuat otak tak bisa berpikir bijak.
Ada juga yang merusak diri, sampai ingin mati, malas makan berhari-hari, atau belanja sampai dompet dan kartu tak berisi lagi.
Bisa juga malah gonta ganti pacar silih berganti, untuk membuktikan eksistensi diri.
Sementara yang lain memilih menyepi mencari ketenangan di tempat sunyi. Berbagai cara ditempuh agar bisa pulih dari sakit hati.
Lalu mulailah kau masuk ke tahap berikutnya, tanpa sadar membangun pertahanan, satu persatu batu kau susun supaya bisa membentengi hatimu dari panah cinta. Namun terkadang bentengmu harus runtuh ketika dia kembali, tak kuasa kau menolaknya tapi kau tahu rasanya tak akan pernah sama lagi...
Anggap saja itu proses, teman...
Dan setiap luka mengalami cara penyembuhan yang berbeda. Hingga akhirnya suatu saat nanti, tanpa kau sadari luka itu sudah mengering, hanya tersisa jaringan parut kulit mati. Dan saat itu, ketika kau dengar namanya, tak ada lagi yang kau rasa. Tak ada lagi luka menganga yang dulu kerap berdarah.
Rasa percaya dirimu sudah pulih jauh hari sebelumnya dan kini yang ada hanya pribadi yang lebih dewasa...
Suatu saat, ketika datang hari yang membawa ingatanmu tentang dia, kau bisa tersenyum penuh kelegaan dan bersyukur sepenuh hati atas masa lalu yang pahit namun sangat berarti.

Selamat menyongsong tahun yang baru.
Tinggalkan masa lalu, yakinlah bahwa masa depan yang baik ada dalam genggamanmu.

*Salam sayang buat kamu yang suka membaca cerita-ceritaku.

Sabtu, 20 Desember 2014

The last goodbye

The Last Goodbye- Billy Boyd- Lyric video.: http://youtu.be/r4j_kCQ4f2Q

Kamis, 18 Desember 2014

Hari ini, duapuluh satu tahun yang lalu...

Tepat seminggu sebelum Natal tiba, seorang dara belia dan seorang jejaka, berikrar untuk hidup bersama.
Altar suci menjadi saksi, kisah cinta penuh romansa. Tahun berlalu, cinta berubah bentuk menjadi mahluk mahluk kecil lincah ceria . Lengkap sudah bahagia mereka.
Namun kisahnya tak berhenti sampai di situ saja. Apa yang mereka bina, tak lepas dari badai yang membuat semua jadi porak poranda.
Terkuras habis sudah tangis dan airmata. Sehingga sampailah mereka di titik untuk menyerah. Cukup di sini saja jodoh kita.
Hidup terus berjalan, mahluk mahluk kecil itu mulai meremaja, jaka tak lagi muda dan dara tak lagi jelita. Cinta berganti, menjadi kasih yang mendewasa.
Hari ini, dara melihat sepiring bakmi di meja. Dan butuh waktu sejenak baginya untuk mengingat apakah hari ini istimewa.
Ya, hari ini, duapuluh satu tahun yang lalu, dua anak manusia, berjanji setia dalam suka dan duka sampai di hari tua.
Airmatanya menitik, dalam hatinya dia berbisik,
"Selamat merayakan  sejuta wajah cinta, wahai dara dan jaka... "

Senin, 17 November 2014

Kamu dan hujan

Sebenarnya aku tak ingin bahagiaku bergantung pada cuaca, entah hujan atau panas. Tapi yang terjadi, hujan memang memberiku damai yang tak kutemukan kala kemarau.
Dan hujan membawa ingatanku tentang kamu....
Tentang kita yang santai berjalan tanpa tergesa, di suatu senja saat hujan lebat mendera. Menangkup tangan di dada, seolah hendak melindungi diri dari dingin yg menerpa.
Kamu berjalanlah dulu, supaya tidak basah tubuhmu, kataku.
Kamu tertawa, dan balas berkata, aku senang berjalan bersamamu, walau itu di bawah hujan.
Tapi nanti kamu sakit, kataku lagi.
Hahahaha, tidak manisku, sama sepertimu, hujan tak akan menyakitiku, jawabmu.
Itu sepenggal cerita kita di musim hujan yang lalu. Tentang lelaki yang tidak mengajakku bergegas untuk bernaung, karena dia tahu betapa aku mencintai hujan seperti aku mencintainya.
Dan kini, musim hujan kembali. Hanya sayang, hujan datang sendiri tanpamu menyertai.
Kasih, sungguh aku akan bahagia walau hanya mendengar kabar tentangmu. Bahwa kamu baik-baik saja, sukses dalam karirmu dan menikmati musim hujan kali ini, mungkin dengan seseorangmu.
Biarlah perih yang meretas di hati, kunikmati sendiri.
Kuteruskan lagi langkah, menikmati hujan yang mulai menetes di kepala berbaur dengan airmata. Indahnya cinta dan hujan memang tak ada duanya....

#EdisiRindu

Minggu, 02 November 2014

Sebel

Entah sebel sama siapa. Mungkin sama keadaan. Rasanya sebel aja liat orang bahagia. Hahahaha yg aku maksud bukan kamu qo. Tapi khusus satu orang itu. Ya menurutku dia bahagia, entah cuma pencitraan aja atau beneran bahagia. Yg jelas dari awalnya sirik sampai akhirnya sebel. Ohya aku memang kadang sebel, tapi aku nyaris ga pernah sirik. Mungkin karena aku terlalu sibuk mensyukuri hidupku. Tapi kali ini akhirnya aku bisa merasakan rasa itu, hmm... ternyata sirik itu ga enak. Hatimu dipenuhi rasa ketidakpuasan, apa yg kamu miliki jadi tidak terlalu berarti, pikiranmu tidak jernih lagi, tidak obyektif, nalarmu tumpul, kebencian yg tidak beralasan, intinya kamu jd mendadak bego. 
Kenapa bisa sampai sirik sama orang itu?
Karena aku merasa terpuruk di sini dengan sakitku, sementara dia dengan lebaynya pamer kemesraan saat plesir keliling dunia. Apa ga sirik coba?
Hahahahaha.. sewot sendiri kan tuh.
Memangnya dia siapa sih?
Hmm...dia...hmmm... dia dewa, kepandaiannya langka dan sialnya aku membutuhkan kepandaiannya itu. Dan karena dia sadar dia langka, makanya dia menganggap dirinya dewa yg tak terjangkau. Hidupnya di awang2, namanya juga dewa. Jadi manusia yang di bumi tidak terlihat olehnya. Mana mau dia susah payah turun menyelami kehidupan manusia. Cuma menuh-menuhin otaknya yg briliant dengan hal yg ga penting. Ingat, kepandaiannya langka.. tak ada tempat di hati n di otaknya untuk hal2 yg tidak berguna bagi kepandaiannya itu.
Dan sialnya lagi lagi aku masih harus berurusan dgn dia.
Karena itu akhirnya aku sebel. Entah sama siapa. Sama dia? Dia ga salah apa2 sama aku. Dia ga menyadari bahwa yg dia perbuat membuatku sebel. Hahaha..mungkin namaku juga tidak pernah tersirat dalam pikirannya.
Yawdah sih, gitu aja sebelnya jangan lama2 juga siriknya. Moga2 besok udah ga sebel lagi ya..

Selasa, 07 Oktober 2014

Ku tak ingin bertemu pagi

Rasanya seperti mimpi..aku ingin terbangun dan semua baik baik saja.
Ya, aku mengerti  apa yang kamu rasa, jawabnya.
Hmmmm...aku berusaha menarik nafas panjang. 
Kami duduk berdampingan di atas perahu yang terombang ambing diayun ombak. Malam ini langit gelap. Tak banyak bintang dan tak ada purnama perak. Sesekali kedip sinar lampu terlihat dari kejauhan. Mungkin perahu nelayan, bagan atau tongkang. 
Kusandarkan kepalaku di bahunya. Tangannya semakin erat menggenggam jemariku.
Bagaimana jika aku mati? Kataku menahan pedih.
Dia diam. Dibelainya rambutku.
Yang penting sekarang kamu hidup, berlakulah seperti orang yg masih hidup.
Aku takut...
Ya aku tahu, katanya seraya mengecup dahiku.
Aku ingin ditemani jika saat itu tiba.
Ya pasti, jika saja aku tahu kapan waktuNya... sayangnya aku tidak tahu. Dan bukan tak mungkin juga aku yang pergi lebih dulu? Biarlah itu menjadi rahasiaNya.
Ingatanku melayang ke beberapa hari yang lalu saat dokter mengatakan bahwa aritmia yang kuderita adalah jenis yang berbahaya. Karena bisa mengakibatkan kematian mendadak. Sudden cardio death. 
Saat ini tak bisa lagi aku bercanda, mati ya mendadak..masa bilang dulu?
Rasanya hidup menjadi murung dan kelabu. Aku bahkan tak bisa menangis, walau dadaku penuh hingga terasa sesak... Aku sedang tak ingin dinasehati, diberi saran tentang pengobatan alternatif, dll. Aku butuh waktu untuk mencerna semua ini. Dan dia mengerti itu. Dia mengerti sakitku, dia tidak takut dan tidak menghindariku, dia berusaha mencari waktu untuk bersamaku di tengah pekerjaannya yang sangat padat. 
Sementara beberapa temanku malah kabur ketakutan, karena tidak ingin "repot" jika tiba-tiba aku mati saat sedang bersama dengan mereka. Bagiku orang seperti itu pengecut sekali. Tidakkah mereka tahu, aku tidak bisa memilih dimana, kapan dan dengan siapa saat terakhirku (kecuali tentu saja kalau aku bunuh diri).Kalau aku bisa memilih, tentu saja aku ingin mati dalam pelukanmu, seperti di film-film itu.

Semilir angin malam seperti berusaha menyejukkan hatiku. Dia memelukku lebih erat. Dari smartphone diputarnya sebuah lagu dan dia ikut bersenandung menyanyikan lagu itu.



Tidurlah di pelukku, hempaskanlah laramu.
Keluhkan semuanya sampai nanti terlupa
Berjanji besok tak perlu ada airmata lagi...
Tersenyumlah saat kau bisa
Yakinlah sedih akan berakhir
Karna hidup ini indah
Jika muram terasa, dengar nyanyian hati
Semua baik saja, asalkan kau percaya.
Berjanji esok tak perlu ada airmata lagi
Tersenyumlah saat kau bisa
Yakinlah sedih akan berakhir karna hidup ini indah
Tersenyumlah saat kau bisa
Yakinlah sedih akan berakhir karna hidup ini..
Bernyanyilah selagi sempat 
Yakinlah lara akan berlalu karna hidup ini indah

Tuhan, kalau ini jadi hari terakhirku, aku tak ingin bertemu pagi. Biarlah selamanya malam. Tapi jika Kau beri aku sehari lagi, ijinkan aku tetap mencintanya.