Dalam genggaman tangan Tuhan

Dalam genggaman tangan Tuhan

Senin, 13 Februari 2012

for my Michelle



Sayangku Michelle....

Jika suatu saat mama tidak bisa lagi menemani kamu..
Dan kamu rindu mama...
Dengarkan saja lagu ini de...
Semestinya judul lagu ini Michelle.. bukan Deborah..
Karena Michelle artinya malaikatku...

Kapanpun kamu rindu mama, ingat saja de...
Mama sayang kamu..
Kalau kita tidak bisa bersama sama lagi,
itu bukan karena mama tidak sayang kamu..
tapi karena Tuhan mencintai mama,
lebih daripada mama mencintai kamu...

Dan sekarang, di sini...
Mama tidak akan menangis lagi....
Kamu juga ya...

Kelak kita akan bertemu lagi..
Tapi itu masih lama...
Masih sangat lama...

Sekarang usaplah airmatamu 
dan tidurlah..
Mama sayang kamu..
Sayaaang sekali..


Minggu, 12 Februari 2012

Suara dari surga....

Suara itu...
suara dari surga...
bening..
indah..
saat dia bernyanyi
sejuta malaikat turut bernyanyi bersamanya..

suara dari surga itu...
tidak akan terdengar lagi..
dibawa pergi si empunya..
dan sejuta malaikat turut menangis mengiringi kepergiannya..

selamat jalan sang diva..

kelak kita kan berada di tempat yang sama
di mana tidak ada lagi airmata...

Sabtu, 11 Februari 2012

Minah dan Udin

Minah to Udin :
Uudiiinnn pagiii.....
Udah sabtu lage neh, neng kiki pasti setel lagu cinta lagi seharian, koclak deh otak Minah..
Udiiinnn hari ini kamu jualan ga?

Udin to minah :
Paagiii minaah... Jualan dung..
*kluget kluget di kasur,peluk guling tambah kenceng*


Minah to Udin :
Hihihihi... tumben udah bangun.. Kluget kluget itu apa? Ngulet? Hihihihihi...
*sambil bayangin penampakan  Udin kalo baru bangun tidur*

Udin to Minah :
Iya, ngulet. Aaaakk jangan dibayangin. Aku kalo tidur cuman pake bokser
*malu, tutup pake selimut*

 Minah to Udin :
Hehehehe...Kirain gaya kepop (korean pop'red) udah ganti jadi campursari.. sarungan, oblongan... Taunya bokseran.. Ga pake baju yah din? ntar masuk angin..

Udin to Minah :
Kadang pake kadang engga. Kalo gerah ya ga pake lah.


Minah to Udin :
Kalo udin gerah, ngadem di kamar minah aja... Kamar minah adem..

Udin to Minah :
Waaa bahaya kalo tidur di kamar minah.. Aku tidurnya ga bisa diem.. Hadap sana hadap sini, kaki ke sana, tangan ke sini...


Minah to udin :
Ya udah, minah pasang tenda di kebon...

Udin to Minah :
tuhh aku tidur di sana, kamu malah pasang tenda..


Minah to Udin :
Abis kamu tidurnya motah.. ga bisa diem. Minah kalo tidur kaya buaya..dieemm aja. Tau tau nyaplok orang yang tidurnya ga bisa diem..

Udin to Minah :
Nyaplok itu digampar? Iiihh takuut..


Minah to Udin :
Itu nabokkk... Nyaplok itu cara buaya makan...

Udin to Minah :
Waaaaaaa... *dieem* 
biarin deh di makan buaya, eh dimakan minah..


Minah to Udin :
Ah dagingmu ga enak, alot...tulang melulu..
*abis di emut emut trus dilepeh*

Udin to Minah :
Weee...


Minah to Udin :
hehehe din, kita mah emang ga cocok..mana ada buaya temenan sama ayam..

*********

Minaaaaaaahhhhh, mana sarapannya?? Jangan sms an terus dong..
ya nyah...yaaaa...


Udiiiiiiiinnn, mandiiii, ini anak, mau jualan gaaa...
Iyaa mak.. yaaa...


*********


Minah dan Udin, mereka bersahabat. 
Persahabatan yang sederhana.
Minah pembantu rumah tangga.
Udin penjual sayur keliling.
Minah berpacaran dengan Joko supir angkot.
Udin berpacaran dengan mba Yum penjual gado gado.

Semoga persahabatan Minah dan Udin tak terkikis oleh zaman dan tak lekang oleh waktu....

(untuk cahaya kecil dalam hidupku)

Galau....


Hari Sabtu....
Hari galau sedunia…
Hari ini ada beberapa hal yang membuatku galau..

*Mendengarkan rhythm of love nya mustang*

*Makan…* 
Sudah dua bulan ini, aku mudah muntah, setiap kali perut di isi malah jadi mual, kembung, nyeri dan akhirnya sesak nafas sampai megap megap seperti ikan koi. 
Alhasil tiap makan aku jadi degdeg'an…takut sakit.. 
Herannya ga kurus juga…bête bête bête… 
(soalnya stock masih banyak beb, hihihi….) 
Kata kardiologku memang begini efek sakit dan obatnya.
GAPAAPAAA....

*Berenang sambil tidur…*

Bukan sulap bukan sihir, sejak aku minum obat dari kardiologku yang tampan itu, debarku jantungku mulai berkurang. 
(swear dok, kamu tampan sekali, jelas aritmiaku kambuh kalau bertemu denganmu.. mengapa kita mesti berjumpa sebagai pasien dan dokternya yah?)
Tapi obat itu, walau cuma setengah tablet kecil, efeknya luar biasa, tidak cuma mengurangi debar, melainkan juga bisa membuatku merasa seringan bulu ayam.. melayang layang..
Mungkin ini efek obat, sewaktu aku sedang berenang, tiba tiba aku merasa mengantuk, kantuk yang tak tertahankan, aku tidak bisa berpijak karena kedalaman kolam yang hampir dua kali tinggi badanku…aku harus tetap berenang.. 
Lama kelamaan semua menjadi buram, tepian kolam tidak lagi terlihat dan air kolam jadi terasa sangat dingin, membekukan.. Membuatku tidak bisa bergerak.. 
Tiba tiba aku mulai dicekam rasa takut., konyol kalau sampai terjadi apa apa di sini. Aku mencoba  berenang sekuat tenaga, aku pasti bisa meraih tepian kolam... Rasanya jauuh sekali… 
Dan kolam renang pada pagi hari di musim penghujan ini, sangat sepi..(uuffhh, ternyata aku rindu kalian 'pasukan bodrex' yang suka meramaikan kolam ini)..  
Akhirnya tepi kolam berhasil kuraih..Jantungku berdebar tak henti henti.. aku benar benar takut tadi… Hampir saja...

*Malam setelah hujan*
Sudah tengah malam, tapi aku belum juga mengantuk...
Kubuka jendela kamarku lebar lebar.. 
Udara malam yang dingin menerpa kulitku.. membuatku menggigil.. Kunikmati kotaku setelah hujan…. 
Di luar sudah sepiiii…. Lampu lampu temaram… 
Air hujan di pucuk cemara angin seperti ratusan berlian kecil yang menggantung… berkilauan.. 
Indahnya hening.... 
Dan pikiranku melayang pada suatu masa…
Pada malam pertama perjalanan kita, sewaktu kita tidak mendapatkan penginapan di mana mana. Dan kita melanjutkan perjalanan, membelah kota yang tidur, hanya ditemani sinar lampu dan jalan yang lengang..
Gagahnya kamu di belakang setir, pandangan matamu lurus ke jalan…
Aku bertanya, apakah kamu sudah mengantuk?
Kamu menjawab, belum.. 
Tapi aku tahu, kamu sebenarnya sudah lelah, sudah enam belas jam kamu berkendara.
Jika mengingat hal itu,  hatiku rasanya sakit sekali.. Kamu tidak mengeluh.. Kamu tetap bercerita tentang ini itu.. dan aku bukan memberimu perjalanan yang indah, tapi perjalanan yang penuh ketakutan.. Karena sampai dua minggu ke depan, kamu tidak bisa beristirahat dengan baik… Sibuk menjaga dan mengurusi aku.
Maafkan aku, atas semua keletihan yang kutimbulkan, atas kekhawatiran yang kamu rasakan..
Andai aku bisa menebus waktu yang sudah berlalu, ijinkan aku mengulang  kembali  semua perjalanan kita, tanpa cacat....
Jam sudah menunjukkan angka dua sewaktu akhirnya kedip mataku mulai memberat….
Kututup jendela, kubaringkan tubuhku, segulir airmata menetes..
Aku tertidur membawa bayang bayang jalan yang sepi dengan kamu yang masih berkendara dan  pandangan matamu yang menatap lurus ke depan..

* Pagi sesudah hujan semalam...*
Paginya aku terbangun dengan hati yang melow..
Dalam kondisi seperti itu, tetanggaku bercerita,  adiknya yang menderita kebocoran jantung sepertiku, sudah di operasi untuk mengganti katup, sementara ayahnya memakai alat pacu jantung, karena aritmianya, seperti aku juga.. 
Sedangkan masalahku adalah keduanya... Saat dia bercerita, bukan itu yang membuatku galau, tapi kata-katanya berikut ini…
“mba..kebanyakan penderita penyakit jantung, lama kelamaan kondisi kesehatannya menurun..semua keluhan intensitasnya meningkat…sampai akhirnya harus dilakukan tindakan..”
Aku jadi ingat kata kata mu.. 
Pasti ada cara untuk menyembuhkan kamu, kamu harus tetap punya semangat...
Tapi beberapa minggu kemudian kata katamu berbeda...
Kamu itu sakit beb.. Kalau sekarang lagi baikan, bukan berarti  kamu sudah sembuh dan tidak perlu menjaga kesehatanmu lagi. 
Sembuh total seperti dulu mungkin tidak bisa lagi beb.. 
Tapi kamu bisa menjaganya, setidaknya tetap seperti sekarang, kalau tidak bisa lebih baik lagi. 
Tak perlu berterimakasih karena aku sudah menjagamu, buktikan saja kamu bisa menjaga kesehatanmu, itu cukup untuku..
Jadi sewaktu kamu mengatakan itu, kamu sudah tahu bahwa kesehatanku akan semakin  menurun?
Karena itu kamu memintaku untuk menjaga diri?
Dan semua literature yang pernah ku baca, teringat kembali… 
Jantung itu organ yg sangat luar biasa.. 
Dia berdetak 115.200 kali setiap hari…
80 kali per menit..
Seumur hidup kita... dia tidak pernah berhenti berdetak… bahkan ketika kita tidur… 
Itu yang namanya setia sampai mati..

*Mimpi….* 
Beberapa minggu lalu mamaku bermimpi, dalam mimpi itu berkumpul semua keluargaku yang sudah almarhum, oma, opa, om, sampai papaku…
Mamaku bertanya, “Qo pada ngumpul, memang mau ada apa? “
Omaku menjawab, “lagi menunggu jenazah datang… “
Mamaku terkejut, “hah? Jenazah siapa? Siapa yg meninggal?
Dan mamaku  terbangun tanpa tahu jawabnya…. 

Di tempat yang lain, seorang temanku bercerita, jeram di sungai Serayu tempat aku dulu pernah jatuh sewaktu berarung jeram, sudah memakan banyak korban jiwa.  
Lanjut temanku ;  
Aku qo mimpiin kamu yaa beb…
Kamu lagi nyanyi café, swaramu bening sekali..tapi lagumu sedih…
Dan sewaktu aku terbangun, aku teringat seorang rekanku, aku pernah memimpikan dia, sebelum dia meninggal beb.. 
Jangan berarung jeram dulu ya beb…(?)
Kamu baik baik saja kan? 
Aku kuatir sama kamu…
Aku rindu dan tidak mau kehilangan kamu.. 

Kemarin aku lihat berita yang mengabarkan seorang gadis yang tewas setelah terjatuh sewaktu sedang berarung jeram. Gadis belia dengan masa depan yang masih terbentang luas di depan.. 
Selamat jalan dik.. 
Beristirahatlah dalam damai...

Dan dua minggu lagi, ada pekerjaan yang mengharuskan aku berarung jeram... 

Kematian itu suatu hal yang pasti terjadi, yang tidak pasti hanya waktu dan caranya...
Galauku hari ini, cukuplah sampai di sini..

Jumat, 10 Februari 2012

Rindu...

Selamat pagi... 
Buat kamu yang ada di dalam kepalaku...

Terimakasih sudah mampir semalam.  Aku sungguh tidak menyangka akan bertemu lagi denganmu. Mendengar suaramu. Memandangmu duduk di depanku sambil mengenggam segelas teh hangat. Dan duduk dalam diam. Sudah berapa lama kita tidak bertemu? Satu bulan? Dua bulan? Satu tahun? Dua tahun?Sejak kamu pergi tanpa kata. Mengapa rasanya sudah lama sekali? Benarkah cinta menahunkan detik ketika kita tidak bertemu dan mendetikkan tahun ketika kita bersama?

Apa yang membawamu datang malam ini? Rinduku? Rindumu? Ceritaku yang sudah membuncah dalam dada? Atau ceritamu yang sudah penuh dan nyaris tumpah? Aku tadinya tidak pernah tahu kalau kamu punya banyak cerita, karena kamu lebih sering diam dan menyimak dengan baik cerita ceritaku.  Tapi ketika kamu mulai berkata kata, ada rasa heran dan takjub, darimana kamu mengetahui semua hal itu. Mungkin kalau aku ikut kuis, jika sudah habis jawabku, dan tersedia bantuan "phone a friend", aku akan memilihmu.
Tapi dari ceritamu juga, aku tahu, bahwa kamu membawa luka dan kamu terkadang gamang tapi berusaha tetap tegar. 

Tapi malam ini kamu tidak membawa cerita, kamu hanya diam, menatapku dalam dalam..
Aku pernah melihatmu kuatir,
aku pernah melihatmu ketakutan,
aku pernah melihatmu kebingungan,
aku pernah melihatmu tertawa,
aku pernah melihatmu terpesona,
aku pernah melihatmu menerawang,
tapi aku belum pernah melihatmu berkaca kaca seperti sekarang ini.. 
Katakan apa yang harus kuperbuat?
Menggenggam jemarimu? Memelukmu? Memberikan bahuku? Atau apa? Tolong dijawab...
Apakah yang membuatmu sampai sedih seperti itu? Aku?Atau siapa? 
Tolong dijawab...

Please, jangan pergi dulu.. 
Bisakah temani aku sebentar lagi..? 
Karena sesaat lagi pagi datang, kamu akan pergi dan aku tak tahu kapan bisa bertemu denganmu lagi...

Baiklah...baiklah... 
Aku tahu waktuku tinggal sedikit, dan lagi lagi semua tanyaku tak terjawab, tapi setidaknya rinduku terobati. 
Dan sebelum kamu pergi, ijinkanlah aku berterimakasih, karena kamu sudah datang malam ini..
Berjanjilah datang lagi esok hari...
Walau hanya dalam mimpi...  
Seperti saat ini.. 


(thanks to someone yang selalu mendengar ceritaku dan membaca tulisanku, kamu tahu yang ku maksud itu kamu.. ;)


Rabu, 08 Februari 2012

Mamaku


Dia mamaku. Mungkin mama paling aneh sedunia. Duniaku.
Mamaku suka sekali dengan alam, tumbuhan dan hewan.
Sejak kecil aku sudah di ajak berjalan jalan ke hutan, bermain di air terjun, memandangi hujan, sampai berenang di laut.
Bahkan waktu aku di perut, mamaku masih naik gunung lho! Gunung Salak katanya..
(ssst...jangan bilang bilang ya, sebenarnya daripada jalan jalan, aku lebih suka main PS hihihihi.... tapi aku suka qo menemani mamaku jalan jalan, karena aku sayang mamaku).

Mamaku juga suka berkebun, di rumah kami yang lama, mama menanam 5 pohon cemara angin, walau ditanam dalam pot, tapi daunnya rimbun. Tapi cemara cemara itu, selalu kering setiap mama pergi ke luar kota. Daun daunnya yang halus itu berguguran.  Padahal si mbak tetap menyirami setiap hari. Kalau mama pulang, cemaranya akan menghijau lagi.
Kata mama, mungkin cemaranya  rindu sama mama. Hmm, masa pohon bisa merasakan  rindu? Heran yaa...

Dulu mama tidak suka menanam bunga, karena tidak mau kecewa kalau harapannya pupus. Sudah lama menunggu dan berharap, tapi jika tidak kunjung berbunga, pasti sedih..
Yaah terang saja tidak berbunga kalau yang ditanam raflesia arnoldi..hahaha... 
Tapi sekarang mama punya pohon kamboja kuning. Seperti yang di Bali. Mama dari dulu suka Bali. (Bali bagus, Joger jelek...hihihi itu kata tulisan di kaus joger mama)

Mama juga punya banyak hewan peliharaan,  mulai dari hamster, kelinci, kura kura, anjing, sekarang lintah...! Iyaa lintah.. yang geli geli itu...
Awalnya tiap pagi ada sepasang burung gereja yang suka "twitteran" di pohon cemara. Lalu mama menebarkan nasi dan beras supaya dimakan burung burung itu. Tapi ternyata bukan burung saja yang suka nasi, lintah juga suka! Mama menamainya lintah hopeless.. (ohya mama selalu menamai semua hewan peliharaannya, bahkan boneka bonekanya).  Sekarang lintah hopeless sudah punya istri dan dua anak. Dia sudah tidak hopeless lagi, kata mama. Sudah jadi keluarga bahagia yang setiap pagi merayap di tembok rumahku.

Pasti teman teman ingat lagu ini :
Cicak cicak di dinding
diam diam merayap
datang sebutir nasi
hap...lalu di lahap...

Dulu sewaktu kecil, kalau aku menangis mama akan menghiburku dengan lagu itu. Aku digendongnya, dan sebelah tangannya yang lain memegang setangkai lidi yang di ujungnya ditempelkan sebutir nasi. Lalu mama akan mencari cicak dan menjulurkan tangkai lidi itu. Cicak akan merayap mendekat dan hap.. sebutir nasi itu dilahap... Lalu aku akan tertawa terkekeh kekeh dan berhenti menangis.. Aku saayaaang mamaku..

Sekarang mamaku suka sakit, kalau sakit mama akan mengurung diri di kamar. Mama akan keluar kamar, kalau mau mandi saja. Mama suka malas napas, tapi tidak pernah malas mandi. Sebenarnya aku mau menemani mamaku, tapi mama lebih suka ditemani 'bahlul' di saat saat seperti itu. Bahlul itu boneka anjing yang besaar, tidak suka pakai baju, hanya pakai celana dalam tapi tidak pernah kembung masuk angin.

Mama juga suka marah, kalau marah suaranya naik dua oktaf, aku takut sekali. Tapi marahnya tidak pernah lama. Dan setelah marah biasanya mama akan menulis surat cinta untukku. Aku suka sedih membacanya dan kami berbaikan kembali.

Aku pernah bertanya pada mama, mama ingin aku menjadi apa setelah besar nanti?
Mama bilang, 'mama hanya ingin aku bahagia...'
Kemudian aku bertanya lagi, apa itu bahagia?
Mama bilang ;
bahagia itu seperti anak yang sudah rajin belajar dan menjadi juara kelas,
bahagia itu seperti orang yang kena bencana alam tapi masih  bisa tertawa,
bahagia itu seperti bunga liar yang tumbuh di tepi jalan, tidak ada yang menanam, tidak ada yang menyiram tapi tetap indah..
bahagia itu seperti burung yang berkicau tiap pagi di pohon cemara..
bahagia itu......
bahagia itu....
ahhh mama, mendengarnya aku jadi mengantuk....
besok saja mama sambung lagi cerita tentang bahagianya, sekarang aku bobo dulu yaa..
aku sayang mama...mmuuaach...

Cahaya


Awalnya aku merasa kehilangan sesuatu. Dan mencari sesuatu yang hilang di dalam kegelapan ternyata pekerjaan yang sulit. Aku membutuhkan seberkas cahaya. Kupikir Tuhan menemaniku dengan berbagai macam cara, salah satunya adalah mengirim cahaya untukku dan itu adalah kamu.

Kamu dan buah pikirmu, membuatku lebih mengerti tentang banyak hal yang selama ini gelap bagiku. Sekarang kamu paham kan mengapa aku menamaimu "cahaya"?

Cahaya kecil di tengah gelap itu, menenangkan, menghangatkan, dan membuatku nyaman. Sedikit saja cukup, walau hanya menjadi remang. Remang yang membuatku mengantuk dan ingin segera tertidur, sampai aku nyaris lupa bahwa kehadiranmu adalah untuk membantuku mencari sesuatu yang hilang. Kunikmati hadirmu dan aku terlena dalam remang cahaya, sehingga aku berharap sang waktu berhenti saat ini juga.

Aku seperti sekelompok anak yang sedang asik bermain bola, sampai tidak menyadari ketika hari beranjak senja. Dan ibu ibu mereka mulai berteriak memanggil, menyuruh anak anak itu pulang.Kaki kaki kuat yang awalnya lincah itu, sekarang berjalan gontai seolah dibebani bandul bandul besi. Mereka enggan pulang. Mereka masih ingin bermain terus. Aku dan anak anak itu, sama... Kami berharap memiliki tombol "pause" yang bisa menghentikan waktu.

Aku tidak ingin segera pagi, aku ingin tetap begini. Karena sinar mentari pagi akan menyilaukan mataku. Membiasakan diri melihat dalam terang setelah sekian lama berada dalam remang akan terasa menyakitkan bagiku. Aku tidak butuh banyak cahaya, aku hanya butuh kamu.

Cahaya, apakah kamu juga menikmati kebersamaan kita dalam remang?
Apakah kamu juga takut dengan sinar mentari pagi, yang bisa membuatmu tidak tampak lagi bagiku?
Ataukah kita harus berlapang dada menerima hadirnya pagi dan hangatnya mentari, dan berharap kita bertemu lagi senja nanti...?

Cahaya, aku hanya tidak mau merasa kehilangan lagi...

(untukmu cahaya kecil dalam hidupku)

Senin, 06 Februari 2012

Maafkan kebodohanku bung

Astaagaaa bung....
Betapa bodohnya aku.. buta...dan tidak punya perasaan...  dangkal..cuma kulit...atau apapun seperti katamu..

Bung...
Aku tidak tenang ketika bung tinggalkan aku tanpa kabar, tanpa berita... Aku terus berpikir apa salah ku?...kenapa sekarang jadi begini? Aku marah,  kecewa dan merasa di abaikan...
 Kamu membuatku  terluka bung...

 Sampai akhirnya aku mulai tenang dan bisa berpikir jernih...aku sharing dengan beberapa teman dekat, mereka yang tidak mengenal  bung secara pribadi..

Dan semua menjadi jelas...seperti kepingan puzzle berantakan yang kemudian tersusun menjadi sebuah gambar..

Semua yang telah bung lakukan untukku, terekam seperti sebuah film, mengalir adegan demi adegan..babak demi babak...dari awal sampai akhir..

bagaimana orang yang se"kaku" bung bisa sehangat dan selembut itu...
bagaimana orang yang se"acuh" bung, bisa penuh perhatian seperti itu..
bagaimana mungkin bung lakukan semua hal itu untukku, jika tidak ada rasa... (aku benar2 dangkal ya bung? baru sekarang aku mengerti arti dangkal yg bung katakan waktu itu..)
kalau saja aku lebih memperhatikan semua, sudah sejak di  tempat itu, bung menyiapkan aku untuk mandiri, karena bung tidak akan ada lagi untuk ku..

Kamu suka sama aku , bung?
Sejak kapan? sejak dulu? ataw sejak di  tempat itu?

Dan karena itu bung menjauh? Supaya perasaan bung tidak jadi lebih mendalam lagi?
Dan selama ini  aku tidak menyadari hal itu?
Apalagi kata yg tepat untukku selain bodoh?

Bung, apa yg kamu rasakan sekarang? gelisah? tersiksa? terluka? menderita? lelah? merasa tidak sepantasnya? dan ingin ini semua segera berlalu? berharap ini hanya sekedar mimpi? tapi ternyata semua nyata..
Maafkan aku atas semua rasa yang menyakitkan itu..
Ataw justru bung sedang menikmati indahnya cinta?
Trimakasih jika masih bisa menikmatinya...

Sekarang aku mengerti, bung sedang membutuhkan sedikit ruang dan waktu, serta sejengkal jarak..untuk mencerna semua..
Bukankah tiang tiang penyangga juga dibangun tidak terlalu rapat?

Bung..
Aku sangat menghargai semua rasa yang bung punya untukku.. dengan penghargaan tertinggi..
Tulus...
Semua itu tidak mengurangi sedikitpun arti bung untukku..
 Malah menambah segala sesuatunya..
Trimakasih bung..

Sekarang bung ingin aku bersikap seperti apa?
sikap bung yg sekarang, membuat ku kehilangan teman berbagi cerita.. teman diskusi,.. rekan kerja ... reminder... sikap bung juga sudah membuat aku iri dgn teman2 bung yg lain, yg masih bung hubungi..
Tapi setidaknya sekarang aku memaklumi.. karena aku tau, bung pasti menderita juga..

Sekali lagi, trimakasih... Aku akan jaga kesehatanku seperti pesan bung.. walau mungkin bung tidak akan tahu, karena tidak akan mendengar kabar tentangku lagi.. (aku hanya mencoba membantu..)

Aku kehilangan kamu, bung...
Kapanpun bung siap.. kembalilah...

(rasanya masih  tidak percaya, masih speechless... masih shock...)

Kamis, 02 Februari 2012

Lelaki dalam sekeping CD

Pergi ya pergi saja...
Ada kemarahan dalam kalimat itu. Tapi itu duluu.... bertahun yang lalu. Sekarang aku tengah memandangi sosok itu dari jauh. Sosok yang dulu pernah dekat denganku. Sosok tak terganti yang pernah mengambil irama hidupku.
Sosok itu duduk dengan tenang, dalam diam, di bawah sebuah pohon rindang. Matanya jauh memandang birunya langit dan gumpalan awan yang berarak. Ah dia masih seperti dulu, suka memandangi cakrawala. Setidaknya masih ada yang tertinggal dalam dirinya, yang tidak berubah, walaupun dia sudah menjadi seorang yang berbeda..


Kukumpulkan segenap keberanianku dan kutahan airmataku supaya tidak segera tumpah, rasanya menyesakkan dada.. Perlahan kulangkahkan kakiku, aku berjalan menghampirinya. Kemudian aku duduk disebelahnya. Dia menoleh padaku, tersenyum, deretan gigi putih itu masih terawat dengan baik. Kulit tembaganya berkilau seperti madu. 
Jantungku berdebar keras... ketika kutatap matanya.. kosong... tak ada cahaya kehidupan di sana.
Hatiku remuk... air mataku tumpah...aku tak mampu berkata kata..
Dia kembali diam, memandangi cakrawala dalam semburat jingga. Entah apa yang dicarinya di sana...
Aku dan dia, menyatu dalam hening..tanpa nada..

Ketika hari semakin senja, seseorang berpakaian putih menghampiri kami, dengan santun meminta ijin untuk membawanya kembali ke ruangan. Aku bahkan tidak bisa mengangguk.. Hanya terpana.. 
Dengan lugu, dia menurut saja dibimbing pergi, meninggalkan aku yang termanggu di sini. 


Maafkan aku... sejujurnya aku tidak pernah benar benar menginginkanmu pergi...
Biarkan hidupku tanpa nada, asalkan dirimu bisa kembali seperti dulu...
Perlahan kutinggalkan halaman teduh itu... 
Besok aku akan kembali untukmu..menemanimu memandang cakrawala seperti dulu. 
Akan kubawakan sekeping CD yang pernah kau tinggalkan di dashboard mobilku dulu... 

Sekeping CD....



Sekeping cd yang kamu tinggalkan di dashboard mobilku, ternyata mampu membuat hatiku berdarah lagi...
Sekeping cd berisi 60 lagu yang kita dengar bersama, selama berhari hari, pasti sudah  membentuk suatu jaringan  baru sel sel kelabu di otakku...

Tidak cuma itu...deretan angka ini "105.8" apakah mempunyai arti tertentu untukmu? Karena dari sanalah semua lagu itu berasal.. 
Angka angka itu adalah gelombang yang mempersatukan imajinasi kita.
Imajinasi mengenai seseorang, sebuah peristiwa, atau hanya untaian nada nada indah yang tidak mengingatkan kita pada apapun atau siapapun... 

Kupikir setelah bertemu dengan teman teman baru, mempunyai kegiatan baru, kesibukan baru dan banyak hal yang harus dipikirkan, di upayakan, di selesaikan, itu mampu membuat semua tentangmu pupus begitu saja..
Ternyata aku salah... aku lupa akan satu hal..
Hidupku kini tidak bernada lagi..

Tinggalkan aku permata, aku bisa membuangnya jauh ke lautan lepas dan tidak melihatnya lagi...
Tinggalkan aku gambar, aku bisa menghapusnya atau merobeknya menjadi serpihan serpihan kecil... 
Tinggalkan aku kenangan, suatu saat aku pasti akan melupakannya.. 

Tapi tolong, jangan tinggalkan aku nada....dan jangan ambil nadaku... kerena nada adalah irama bagi hidupku...

Pergi ya pergi saja...
.....