Dalam genggaman tangan Tuhan
Rabu, 08 Februari 2012
Cahaya
Awalnya aku merasa kehilangan sesuatu. Dan mencari sesuatu yang hilang di dalam kegelapan ternyata pekerjaan yang sulit. Aku membutuhkan seberkas cahaya. Kupikir Tuhan menemaniku dengan berbagai macam cara, salah satunya adalah mengirim cahaya untukku dan itu adalah kamu.
Kamu dan buah pikirmu, membuatku lebih mengerti tentang banyak hal yang selama ini gelap bagiku. Sekarang kamu paham kan mengapa aku menamaimu "cahaya"?
Cahaya kecil di tengah gelap itu, menenangkan, menghangatkan, dan membuatku nyaman. Sedikit saja cukup, walau hanya menjadi remang. Remang yang membuatku mengantuk dan ingin segera tertidur, sampai aku nyaris lupa bahwa kehadiranmu adalah untuk membantuku mencari sesuatu yang hilang. Kunikmati hadirmu dan aku terlena dalam remang cahaya, sehingga aku berharap sang waktu berhenti saat ini juga.
Aku seperti sekelompok anak yang sedang asik bermain bola, sampai tidak menyadari ketika hari beranjak senja. Dan ibu ibu mereka mulai berteriak memanggil, menyuruh anak anak itu pulang.Kaki kaki kuat yang awalnya lincah itu, sekarang berjalan gontai seolah dibebani bandul bandul besi. Mereka enggan pulang. Mereka masih ingin bermain terus. Aku dan anak anak itu, sama... Kami berharap memiliki tombol "pause" yang bisa menghentikan waktu.
Aku tidak ingin segera pagi, aku ingin tetap begini. Karena sinar mentari pagi akan menyilaukan mataku. Membiasakan diri melihat dalam terang setelah sekian lama berada dalam remang akan terasa menyakitkan bagiku. Aku tidak butuh banyak cahaya, aku hanya butuh kamu.
Cahaya, apakah kamu juga menikmati kebersamaan kita dalam remang?
Apakah kamu juga takut dengan sinar mentari pagi, yang bisa membuatmu tidak tampak lagi bagiku?
Ataukah kita harus berlapang dada menerima hadirnya pagi dan hangatnya mentari, dan berharap kita bertemu lagi senja nanti...?
Cahaya, aku hanya tidak mau merasa kehilangan lagi...
(untukmu cahaya kecil dalam hidupku)
Senin, 06 Februari 2012
Maafkan kebodohanku bung
Astaagaaa bung....
Betapa bodohnya aku.. buta...dan tidak punya perasaan... dangkal..cuma kulit...atau apapun seperti katamu..
Bung...
Aku tidak tenang ketika bung tinggalkan aku tanpa kabar, tanpa berita... Aku terus berpikir apa salah ku?...kenapa sekarang jadi begini? Aku marah, kecewa dan merasa di abaikan...
Kamu membuatku terluka bung...
Sampai akhirnya aku mulai tenang dan bisa berpikir jernih...aku sharing dengan beberapa teman dekat, mereka yang tidak mengenal bung secara pribadi..
Dan semua menjadi jelas...seperti kepingan puzzle berantakan yang kemudian tersusun menjadi sebuah gambar..
Semua yang telah bung lakukan untukku, terekam seperti sebuah film, mengalir adegan demi adegan..babak demi babak...dari awal sampai akhir..
bagaimana orang yang se"kaku" bung bisa sehangat dan selembut itu...
bagaimana orang yang se"acuh" bung, bisa penuh perhatian seperti itu..
bagaimana mungkin bung lakukan semua hal itu untukku, jika tidak ada rasa... (aku benar2 dangkal ya bung? baru sekarang aku mengerti arti dangkal yg bung katakan waktu itu..)
kalau saja aku lebih memperhatikan semua, sudah sejak di tempat itu, bung menyiapkan aku untuk mandiri, karena bung tidak akan ada lagi untuk ku..
Kamu suka sama aku , bung?
Sejak kapan? sejak dulu? ataw sejak di tempat itu?
Dan karena itu bung menjauh? Supaya perasaan bung tidak jadi lebih mendalam lagi?
Dan selama ini aku tidak menyadari hal itu?
Apalagi kata yg tepat untukku selain bodoh?
Bung, apa yg kamu rasakan sekarang? gelisah? tersiksa? terluka? menderita? lelah? merasa tidak sepantasnya? dan ingin ini semua segera berlalu? berharap ini hanya sekedar mimpi? tapi ternyata semua nyata..
Maafkan aku atas semua rasa yang menyakitkan itu..
Ataw justru bung sedang menikmati indahnya cinta?
Trimakasih jika masih bisa menikmatinya...
Sekarang aku mengerti, bung sedang membutuhkan sedikit ruang dan waktu, serta sejengkal jarak..untuk mencerna semua..
Bukankah tiang tiang penyangga juga dibangun tidak terlalu rapat?
Bung..
Aku sangat menghargai semua rasa yang bung punya untukku.. dengan penghargaan tertinggi..
Tulus...
Semua itu tidak mengurangi sedikitpun arti bung untukku..
Malah menambah segala sesuatunya..
Trimakasih bung..
Sekarang bung ingin aku bersikap seperti apa?
sikap bung yg sekarang, membuat ku kehilangan teman berbagi cerita.. teman diskusi,.. rekan kerja ... reminder... sikap bung juga sudah membuat aku iri dgn teman2 bung yg lain, yg masih bung hubungi..
Tapi setidaknya sekarang aku memaklumi.. karena aku tau, bung pasti menderita juga..
Sekali lagi, trimakasih... Aku akan jaga kesehatanku seperti pesan bung.. walau mungkin bung tidak akan tahu, karena tidak akan mendengar kabar tentangku lagi.. (aku hanya mencoba membantu..)
Aku kehilangan kamu, bung...
Kapanpun bung siap.. kembalilah...
(rasanya masih tidak percaya, masih speechless... masih shock...)
Betapa bodohnya aku.. buta...dan tidak punya perasaan... dangkal..cuma kulit...atau apapun seperti katamu..
Bung...
Aku tidak tenang ketika bung tinggalkan aku tanpa kabar, tanpa berita... Aku terus berpikir apa salah ku?...kenapa sekarang jadi begini? Aku marah, kecewa dan merasa di abaikan...
Kamu membuatku terluka bung...
Sampai akhirnya aku mulai tenang dan bisa berpikir jernih...aku sharing dengan beberapa teman dekat, mereka yang tidak mengenal bung secara pribadi..
Dan semua menjadi jelas...seperti kepingan puzzle berantakan yang kemudian tersusun menjadi sebuah gambar..
Semua yang telah bung lakukan untukku, terekam seperti sebuah film, mengalir adegan demi adegan..babak demi babak...dari awal sampai akhir..
bagaimana orang yang se"kaku" bung bisa sehangat dan selembut itu...
bagaimana orang yang se"acuh" bung, bisa penuh perhatian seperti itu..
bagaimana mungkin bung lakukan semua hal itu untukku, jika tidak ada rasa... (aku benar2 dangkal ya bung? baru sekarang aku mengerti arti dangkal yg bung katakan waktu itu..)
kalau saja aku lebih memperhatikan semua, sudah sejak di tempat itu, bung menyiapkan aku untuk mandiri, karena bung tidak akan ada lagi untuk ku..
Kamu suka sama aku , bung?
Sejak kapan? sejak dulu? ataw sejak di tempat itu?
Dan karena itu bung menjauh? Supaya perasaan bung tidak jadi lebih mendalam lagi?
Dan selama ini aku tidak menyadari hal itu?
Apalagi kata yg tepat untukku selain bodoh?
Bung, apa yg kamu rasakan sekarang? gelisah? tersiksa? terluka? menderita? lelah? merasa tidak sepantasnya? dan ingin ini semua segera berlalu? berharap ini hanya sekedar mimpi? tapi ternyata semua nyata..
Maafkan aku atas semua rasa yang menyakitkan itu..
Ataw justru bung sedang menikmati indahnya cinta?
Trimakasih jika masih bisa menikmatinya...
Sekarang aku mengerti, bung sedang membutuhkan sedikit ruang dan waktu, serta sejengkal jarak..untuk mencerna semua..
Bukankah tiang tiang penyangga juga dibangun tidak terlalu rapat?
Bung..
Aku sangat menghargai semua rasa yang bung punya untukku.. dengan penghargaan tertinggi..
Tulus...
Semua itu tidak mengurangi sedikitpun arti bung untukku..
Malah menambah segala sesuatunya..
Trimakasih bung..
Sekarang bung ingin aku bersikap seperti apa?
sikap bung yg sekarang, membuat ku kehilangan teman berbagi cerita.. teman diskusi,.. rekan kerja ... reminder... sikap bung juga sudah membuat aku iri dgn teman2 bung yg lain, yg masih bung hubungi..
Tapi setidaknya sekarang aku memaklumi.. karena aku tau, bung pasti menderita juga..
Sekali lagi, trimakasih... Aku akan jaga kesehatanku seperti pesan bung.. walau mungkin bung tidak akan tahu, karena tidak akan mendengar kabar tentangku lagi.. (aku hanya mencoba membantu..)
Aku kehilangan kamu, bung...
Kapanpun bung siap.. kembalilah...
(rasanya masih tidak percaya, masih speechless... masih shock...)
Kamis, 02 Februari 2012
Lelaki dalam sekeping CD
Pergi ya pergi saja...
Ada kemarahan dalam kalimat itu. Tapi itu duluu.... bertahun yang lalu. Sekarang aku tengah memandangi sosok itu dari jauh. Sosok yang dulu pernah dekat denganku. Sosok tak terganti yang pernah mengambil irama hidupku.
Sosok itu duduk dengan tenang, dalam diam, di bawah sebuah pohon rindang. Matanya jauh memandang birunya langit dan gumpalan awan yang berarak. Ah dia masih seperti dulu, suka memandangi cakrawala. Setidaknya masih ada yang tertinggal dalam dirinya, yang tidak berubah, walaupun dia sudah menjadi seorang yang berbeda..
Kukumpulkan segenap keberanianku dan kutahan airmataku supaya tidak segera tumpah, rasanya menyesakkan dada.. Perlahan kulangkahkan kakiku, aku berjalan menghampirinya. Kemudian aku duduk disebelahnya. Dia menoleh padaku, tersenyum, deretan gigi putih itu masih terawat dengan baik. Kulit tembaganya berkilau seperti madu.
Jantungku berdebar keras... ketika kutatap matanya.. kosong... tak ada cahaya kehidupan di sana.
Hatiku remuk... air mataku tumpah...aku tak mampu berkata kata..
Dia kembali diam, memandangi cakrawala dalam semburat jingga. Entah apa yang dicarinya di sana...
Aku dan dia, menyatu dalam hening..tanpa nada..
Ketika hari semakin senja, seseorang berpakaian putih menghampiri kami, dengan santun meminta ijin untuk membawanya kembali ke ruangan. Aku bahkan tidak bisa mengangguk.. Hanya terpana..
Dengan lugu, dia menurut saja dibimbing pergi, meninggalkan aku yang termanggu di sini.
Maafkan aku... sejujurnya aku tidak pernah benar benar menginginkanmu pergi...
Biarkan hidupku tanpa nada, asalkan dirimu bisa kembali seperti dulu...
Perlahan kutinggalkan halaman teduh itu...
Besok aku akan kembali untukmu..menemanimu memandang cakrawala seperti dulu.
Akan kubawakan sekeping CD yang pernah kau tinggalkan di dashboard mobilku dulu...
Ada kemarahan dalam kalimat itu. Tapi itu duluu.... bertahun yang lalu. Sekarang aku tengah memandangi sosok itu dari jauh. Sosok yang dulu pernah dekat denganku. Sosok tak terganti yang pernah mengambil irama hidupku.
Sosok itu duduk dengan tenang, dalam diam, di bawah sebuah pohon rindang. Matanya jauh memandang birunya langit dan gumpalan awan yang berarak. Ah dia masih seperti dulu, suka memandangi cakrawala. Setidaknya masih ada yang tertinggal dalam dirinya, yang tidak berubah, walaupun dia sudah menjadi seorang yang berbeda..
Kukumpulkan segenap keberanianku dan kutahan airmataku supaya tidak segera tumpah, rasanya menyesakkan dada.. Perlahan kulangkahkan kakiku, aku berjalan menghampirinya. Kemudian aku duduk disebelahnya. Dia menoleh padaku, tersenyum, deretan gigi putih itu masih terawat dengan baik. Kulit tembaganya berkilau seperti madu.
Jantungku berdebar keras... ketika kutatap matanya.. kosong... tak ada cahaya kehidupan di sana.
Hatiku remuk... air mataku tumpah...aku tak mampu berkata kata..
Dia kembali diam, memandangi cakrawala dalam semburat jingga. Entah apa yang dicarinya di sana...
Aku dan dia, menyatu dalam hening..tanpa nada..
Ketika hari semakin senja, seseorang berpakaian putih menghampiri kami, dengan santun meminta ijin untuk membawanya kembali ke ruangan. Aku bahkan tidak bisa mengangguk.. Hanya terpana..
Dengan lugu, dia menurut saja dibimbing pergi, meninggalkan aku yang termanggu di sini.
Maafkan aku... sejujurnya aku tidak pernah benar benar menginginkanmu pergi...
Biarkan hidupku tanpa nada, asalkan dirimu bisa kembali seperti dulu...
Perlahan kutinggalkan halaman teduh itu...
Besok aku akan kembali untukmu..menemanimu memandang cakrawala seperti dulu.
Akan kubawakan sekeping CD yang pernah kau tinggalkan di dashboard mobilku dulu...
Sekeping CD....
Sekeping cd yang kamu tinggalkan di dashboard mobilku, ternyata mampu membuat hatiku berdarah lagi...
Sekeping cd berisi 60 lagu yang kita dengar bersama, selama berhari hari, pasti sudah membentuk suatu jaringan baru sel sel kelabu di otakku...
Tidak cuma itu...deretan angka ini "105.8" apakah mempunyai arti tertentu untukmu? Karena dari sanalah semua lagu itu berasal..
Angka angka itu adalah gelombang yang mempersatukan imajinasi kita.
Imajinasi mengenai seseorang, sebuah peristiwa, atau hanya untaian nada nada indah yang tidak mengingatkan kita pada apapun atau siapapun...
Kupikir setelah bertemu dengan teman teman baru, mempunyai kegiatan baru, kesibukan baru dan banyak hal yang harus dipikirkan, di upayakan, di selesaikan, itu mampu membuat semua tentangmu pupus begitu saja..
Ternyata aku salah... aku lupa akan satu hal..
Hidupku kini tidak bernada lagi..
Tinggalkan aku permata, aku bisa membuangnya jauh ke lautan lepas dan tidak melihatnya lagi...
Tinggalkan aku gambar, aku bisa menghapusnya atau merobeknya menjadi serpihan serpihan kecil...
Tinggalkan aku kenangan, suatu saat aku pasti akan melupakannya..
Tapi tolong, jangan tinggalkan aku nada....dan jangan ambil nadaku... kerena nada adalah irama bagi hidupku...
Pergi ya pergi saja...
.....
Senin, 30 Januari 2012
lelah....
Pernahkah kamu merasakan lelah? Lelah yang teramat sangat...
Mungkin ini memang sudah takdirku.. Aku tau, aku memang rupawan dan nyaman... Siapa yang tidak betah berlama-lama denganku?
Dia selalu memilih aku untuk menemaninya ke mana mana...
Ke pasar yang becek dan menjijikan...
Ke mal yang penuh gemerlap lampu..
Menyusuri panasnya aspal jalan...
Menikmati indahnya rimbun hutan cemara..
Berkecipak di dinginnya air terjun..
Ke rumah sakit.. (yang satu ini membuatku selalu gelisah)
Sampai ke bandara (di mana aku merasa kehilangan rasa percaya diri, karena aku sudah begitu lusuh)..
Aku heran, dia punya banyak pilihan selain aku..tapi aku lagi..aku lagi yang dipilihnya..
Ohya, aku bukan tidak sayang dia, aku cuma lelah..
Awalnya aku memang tersanjung, bangga karena menjadi pilihannya dari sekian banyak yang ada..
Awalnya yang lain iri padaku, tapi lama lama mungkin mereka bersyukur tidak bernasib seperti aku...
Ah sudahlah, tidak perlu mengeluh lagi, nikmati saja, jalani saja... mengalir seperti air..
Ohya, maaf aku belum sempat memperkenalkan diri, namaku "crocband flip" dia membeliku seharga Rp 360.000 dua tahun yang lalu...
Mungkin ini memang sudah takdirku.. Aku tau, aku memang rupawan dan nyaman... Siapa yang tidak betah berlama-lama denganku?
Dia selalu memilih aku untuk menemaninya ke mana mana...
Ke pasar yang becek dan menjijikan...
Ke mal yang penuh gemerlap lampu..
Menyusuri panasnya aspal jalan...
Menikmati indahnya rimbun hutan cemara..
Berkecipak di dinginnya air terjun..
Ke rumah sakit.. (yang satu ini membuatku selalu gelisah)
Sampai ke bandara (di mana aku merasa kehilangan rasa percaya diri, karena aku sudah begitu lusuh)..
Aku heran, dia punya banyak pilihan selain aku..tapi aku lagi..aku lagi yang dipilihnya..
Ohya, aku bukan tidak sayang dia, aku cuma lelah..
Awalnya aku memang tersanjung, bangga karena menjadi pilihannya dari sekian banyak yang ada..
Awalnya yang lain iri padaku, tapi lama lama mungkin mereka bersyukur tidak bernasib seperti aku...
Ah sudahlah, tidak perlu mengeluh lagi, nikmati saja, jalani saja... mengalir seperti air..
Ohya, maaf aku belum sempat memperkenalkan diri, namaku "crocband flip" dia membeliku seharga Rp 360.000 dua tahun yang lalu...
Minggu, 29 Januari 2012
tahukah kamu? (the other side of "just story")
Tahukah kamu, sejak aku mengenalmu bertahun tahun yang lalu, mengenal sosok mandiri, yang kuat tetapi juga lembut, sosok yang nyaman untuk di ajak berbincang mengenai apa saja, sosok penggemar buku dan lagu..
Sejak itu, dunia tak lagi sama bagiku..
Tahukah kamu, entah kapan tepatnya, aku mulai menyukaimu..
Hatiku mulai merindu, gelisah, berdebar tak tentu.. seperti waktu remaja dulu.
Tahukah kamu, sejak saat itu aku mulai menunggu telepon dari mu, berharap kamu menghubungiku untuk suatu alasan, apa saja.. karena telepon darimu akan memuaskan rinduku..
Tahukah kamu, aku tak berani meneleponmu lebih dulu... karena aku tidak mau kamu tahu, bahwa aku sedang merindumu.
Tahukah kamu, aku sangat tersiksa... Mengapa sebuah alasan saja tidak bisa kutemukan tanpa rasa mengada ngada?
Padahal telepon itu jembatanku untuk bertemu denganmu..
Tahukah kamu, jika sudah bertemu, tak puas puasnya aku memandangmu, mendengarmu bercerita, melihatmu tertawa, melihatmu bekerja, mengatur dan memimpin segala sesuatunya...
Tahukah kamu, jika aku ingin selalu berlama lama bisa berada di dekatmu.
Tahukah kamu, aku nyaman dengan situasi seperti ini, situasi di mana kamu tidak menyadari bahwa aku ada. Karena dengan begitu, aku bisa bebas berkelana dengan semua rasa dan pikiranku sendiri, tanpa perlu takut, jika kamu mengetahuinya.
Dan seperti itulah kita, bertahun tahun lamanya...
Banyak peristiwa yang terjadi dalam hidup kita masing2, kadang kita saling membaginya, kadang tidak...
Tahukah kamu, hal itu tidak sedikitpun mengurangi semua rasaku untukmu... malah menambah rindu, jika sudah lama tidak bertemu, sudah lama tidak mendengar ceritamu...
Tahukah kamu, kadang aku teringat pada suatu senja, saat aku mengajarmu berkendara, di sebuah jalan sepi, yang banyak ditumbuhi ilalang di kanan kirinya, ditemani hembusan angin dan lagu lagu kesukaan kita..
Tahukah kamu, kamu...sangat cantik saat itu... lebih cantik dari biasanya,
Kemilau mentari senja yang menimpa wajahmu dan hembusan angin yang menerpa lembut rambutmu, perpaduan sempurna ciptaanNya, alam dan kamu..
Sehingga tanpa sadar aku mengatakannya..
"Kamu cantik sekali......"
Tahukah kamu, betapa terkejutnya aku setelah dengan spontan mengatakan hal itu, aku kuatir, rahasia hatiku selama ini akan diketahui olehmu, jika aku melakukan satu kesalahan saja..
Tapi kamu tidak menyadarinya kan?
Karena kamu tidak tahu bahwa aku ada..
Biarlah begini saja ya cinta..
Sampai suatu saat nanti aku mampu berkata..
"Tahukah kamu.......?"
Sejak itu, dunia tak lagi sama bagiku..
Tahukah kamu, entah kapan tepatnya, aku mulai menyukaimu..
Hatiku mulai merindu, gelisah, berdebar tak tentu.. seperti waktu remaja dulu.
Tahukah kamu, sejak saat itu aku mulai menunggu telepon dari mu, berharap kamu menghubungiku untuk suatu alasan, apa saja.. karena telepon darimu akan memuaskan rinduku..
Tahukah kamu, aku tak berani meneleponmu lebih dulu... karena aku tidak mau kamu tahu, bahwa aku sedang merindumu.
Tahukah kamu, aku sangat tersiksa... Mengapa sebuah alasan saja tidak bisa kutemukan tanpa rasa mengada ngada?
Padahal telepon itu jembatanku untuk bertemu denganmu..
Tahukah kamu, jika sudah bertemu, tak puas puasnya aku memandangmu, mendengarmu bercerita, melihatmu tertawa, melihatmu bekerja, mengatur dan memimpin segala sesuatunya...
Tahukah kamu, jika aku ingin selalu berlama lama bisa berada di dekatmu.
Tahukah kamu, aku nyaman dengan situasi seperti ini, situasi di mana kamu tidak menyadari bahwa aku ada. Karena dengan begitu, aku bisa bebas berkelana dengan semua rasa dan pikiranku sendiri, tanpa perlu takut, jika kamu mengetahuinya.
Dan seperti itulah kita, bertahun tahun lamanya...
Banyak peristiwa yang terjadi dalam hidup kita masing2, kadang kita saling membaginya, kadang tidak...
Tahukah kamu, hal itu tidak sedikitpun mengurangi semua rasaku untukmu... malah menambah rindu, jika sudah lama tidak bertemu, sudah lama tidak mendengar ceritamu...
Tahukah kamu, kadang aku teringat pada suatu senja, saat aku mengajarmu berkendara, di sebuah jalan sepi, yang banyak ditumbuhi ilalang di kanan kirinya, ditemani hembusan angin dan lagu lagu kesukaan kita..
Tahukah kamu, kamu...sangat cantik saat itu... lebih cantik dari biasanya,
Kemilau mentari senja yang menimpa wajahmu dan hembusan angin yang menerpa lembut rambutmu, perpaduan sempurna ciptaanNya, alam dan kamu..
Sehingga tanpa sadar aku mengatakannya..
"Kamu cantik sekali......"
Tahukah kamu, betapa terkejutnya aku setelah dengan spontan mengatakan hal itu, aku kuatir, rahasia hatiku selama ini akan diketahui olehmu, jika aku melakukan satu kesalahan saja..
Tapi kamu tidak menyadarinya kan?
Karena kamu tidak tahu bahwa aku ada..
Biarlah begini saja ya cinta..
Sampai suatu saat nanti aku mampu berkata..
"Tahukah kamu.......?"
Sabtu, 28 Januari 2012
jangan pergiiiii.....
Tidak terasa sudah 3 tahun kebersamaan kita...
aku masih ingat awal ku melihatmu, lelaki pendek buntek dengan hidung seperti gua jepang..
kamu yang lucu.. kamu yang norak.. kamu yang jayus..kamu yang jahil..iseng..kamu yang baik hati dan mudah menaruh iba..kamu yang pandai bermain musik..kamu yang pandai dan kritis.. kamu, kamu dan kamu...
kehadiranmu sanggup mengisi akhir pekanku yang kadang kelabu...
kehadiranmu mampu membuatku tertawa dan ingin selalu berlama lama bersamamu..
walau kita hanya berjumpa 1 atau 2 kali seminggu..itu cukup untukku.
aku pernah melihatmu dalam suasana dan tempat yang berbeda, tapi itu tak mampu menggetarkan hatiku..di sini aku lihat kamu yang sejatinya...
mungkin kamu tidak akan pernah menyadari hadirku dan betapa artimu bagiku..karena kamu hanya menjalankan tugasmu dan aku hanya menjalankan tugasku sebagai penggemarmu...
harus ku akui, aku sudah terbiasa dengan keberadaanmu yang selalu kutunggu di setiap akhir minggu..
dan minggu lalu, tiba tiba kamu berkata, sudah saatnya kita berpisah..ahh aku tidak percaya...kamu kan selalu penuh canda, ku anggap ini salah satu kejahilanmu saja..supaya aku merindumu...
tapi ternyataaa....tadi, dengan kejam temanmu menegaskan ucapanmu...ini jadi yang terakhir kita bertemu...dengan backsound lagu yang melelehkan hatiku dan menumpahkan airmataku...
aku tak percaya...
benarkah?
kamu benar benar akan pergi?
tidak lagi menemani akhir pekan ku dengan kekonyolan petualanganmu?
kenapa rasanya dadaku sesak seperti kehilangan kekasih? padahal kita tidak pernah saling mencintai? baru kali ini aku mengalami hal seperti ini..
lamat lamat tergiang dalam telingaku senandung lagu..
bila sudah tak mungkin...
hasrat cinta menyatu..
walau rasa itu masih ada
bahkan tlah jadi bagian dalam hidupku
andai ku bisa menyusun nada, akan kutulis syair untukmu..
kuharap kita bisa bertemu lagi suatu saat nanti...
trimakasih sudah menemaniku 3 tahun ini...
peppy...aahhh..lebay rasanya menangis untukmu...
(ditulis setelah menyaksikan episode terakhir Peppy the explorer)
Dari
lingkungan hidupnya…anak- anak belajar…
Jika anak biasa hidup dicacat dan dicela,
kelak ia akan terbiasa menyalahkan orang
lain…
Jika anak biasa hidup dalam permusuhan,
kelak ia akan terbiasa menentang dan
melamun…
Jika anak biasa hidup dicekam ketakutan,
ia akan terbiasa merasa resah dan cemas…
Jika anak biasa hidup dikasihani,
ia akan terbiasa meratapi nasibnya sendiri…
Jika anak biasa hidup diolok-olok,
ia akan terbiasa menjadi pemalu…
Jika anak biasa hidup dikelilingi perasaan
iri.
ia akan terbiasa merasa bersalah…
Jika anak terbiasa hidup dimengerti dan
dipahami,
kelak ia akan terbiasa menjadi penyabar…
Jika anak biasa hidup diberi semangat dan
dorongan,
Kelak ia akan terbiasa percaya diri…
Jika anak biasa hidup banyak dipuji,
Kelak ia akan terbiasa menghargai…
Jika anak biasa hidup diterima oleh
lingkungannya,
Kelak ia akan terbiasa mencintai…
Jika anak biasa hidup tanpa banyak
dipersalahkan,
Kelak ia akan terbiasa senang menjadi dirinya
sendiri…
Jika anak biasa hidup mendapatkan pengakuan
dari lingkungan,
Kelak ia akan terbiasa menetapkan sasaran
langkahnya…
Jika anak biasa hidup jujur,
Kelak ia akan terbiasa memilih kebenaran…
Jika anak biasa hidup diperlakukan adil,
Kelak ia akan terbiasa dengan keadilan…
Jika anak biasa hidup mengenyam rasa aman,
Kelak ia akan terbiasa percaya diri dan
mempercayai orang orang di sekitarnya..
Jika anak biasa hidup di tengah
keramah-tamahan
Kelak ia akan terbiasa berpendirian “
Sungguh indah dunia ini…”
Terjemahan bebas dari
Dorothy Low Nolte, 1982, Children Learn
What They Live With
Jumat, 27 Januari 2012
catatan tertinggal
catatan tertinggal
akhirnya tiba saat berpisah
terputus sesuatu yang pernah bertali
antara waktu, jarak dan peristiwa
kuberharap atas itu
ia menetap dalam diri
aku menetap pada hatinya
waktu saat berlalu
kau bisa mengantar pagi
aku tak sempat mengucap salam
tak pernah kuberpisah sedalam ini
daunan berderai jauh berkata
ku antar saat kembali
ku antar saat kembali...
Langganan:
Komentar (Atom)